Rumah Yatim

Artikel Muslim: Bukan Buruh Biasa


Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Apa yang paling sering kau ingatkan pada anakmu?”

Itu pertanyaan kesekian yang Lukman ajukan pada Yahya. Keduanya adalah sahabatku, sesama jamaah mushalla. Seputar anak menjadi topik obrolan kami malam itu, hingga tiba waktu Isya. Dan aku bersyukur ada di antara keduanya, karena dari obrolan mereka kesadaranku kembali terbuka.

“Shalat dan belajar,” jawab Yahya.

Tentang shalat aku tak ingin bertanya lagi, aku sendiri mengalami. Meski sudah memasuki usia baligh, ternyata tidak serta merta menumbuhkan kesadaran putriku untuk selalu menjalankan shalat tepat waktu. Dengan berbagai alasan, seringkali ia menunda-nunda (jangan-jangan kita pun juga. Astaghfirullah! ). Dan sebagai orang tua, kita tak boleh bosan untuk mengingatkannya. Kewajiban memang sudah melekat padanya, tapi mengingatkan adalah kewajiban kita selaku orang tuanya.

Mengenai belajar yang Yahya katakan, pertanyaanku terwakili oleh Lukman. “Bukankah anakmu sudah selesai ujian, haruskah dia terus belajar?”

Dan seperti yang sudah kubayangkan, Yahya memberikan jawaban yang mampu menggugah kesadaran. “Di sekolah formal, belajar memang ada batasnya, sekian tahun atau setelah menyelesaikan sekian SKS. Tapi di kehidupan, belajar tidak ada batasan, baik usia maupun jenis kelaminnya. Bukankah demikian?”

Aku dan Lukman mengangguk. Sepakat dan sependapat.

“Putriku memang sudah selesai mengikuti ujian, tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Mudah-mudahan hasilnya nanti memuaskan.”

Serempak kami mengaminkan.

“Meski tak seperti menjelang ujian, namun aku selalu mengingatkan agar ia tak berhenti belajar. Tidak harus terpaku pada buku-buku paket yang ia dapatkan dari sekolah, tapi belajar bisa dari sumber-sumber lainnya. Aku juga mengingatkan, meski ia seorang perempuan, jangan pernah berfikir bahwa sekolah tak penting baginya. Kalaupun akhirnya setelah berkeluarga seorang perempuan disibukkan dengan berbagai urusan rumah tangga, jangan sedih dan jangan pula menganggap rendah karena di situlah medan juangnya sebagai perempuan. Dan menjadi seorang ibu rumah tangga pun harus berilmu agar keluarga dan rumah tangganya dapat diurus dengan baik.” Yahya menjelaskan.

“Pernah satu hari putriku bertanya, bolehkah ia bercita-cita menjadi ini dan itu? Dengan mantap kujawab, ya! Kuingatkan padanya untuk tidak ragu, bercita-citalah setinggi mungkin, namun jangan lupakan kodrat dan juga kewajibanmu,” Yahya menambahkan.

Benar yang Yahya katakan, menuntut ilmu bukanlah sekedar hak, tapi kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, selama nyawa masih melekat di badan. Ini tidak berlebihan dan bukan tanpa alasan. Rasulullah pernah bersabda bahwa untuk menggapai dunia, akhirat dan juga keduanya kita harus menguasai ilmunya.

Sekolah formal adalah salah satu tempat untuk menuntut ilmu, tapi tentu saja bukan satu-satunya. Di luar itu, kapan pun, di manapun dan pada siapapun kita bisa ‘bersekolah’, belajar pada kehidupan, membaca pelajaran yang tak selalu berupa tulisan, pada kejadian dan tanda serta kebesaran Allah yang tersebar di sekeliling kita.

Masih dalam suasana peringatan hari buruh internasional yang jatuh setiap tanggal 1 Mei, dan juga hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, mari kita bekali anak-anak kita dengan pendidikan yang terbaik. Utamakan yang mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan. Pilah dan pilihkan sekolah yang mempunyai kurikulum pendidikan dunia dan akhirat dalam porsi yang semestinya.

Hapus pemikiran yang mengatakan untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya menjadi seorang buruh. Perlu diingat, menjadi buruh bukanlah sesuatu yang hina. Menjadi buruh bisa membuat seseorang menjadi mulia, baik di mata Allah maupun di mata manusia, asalkan tahu ilmunya.

Jadilah buruh yang berilmu. Jadilah buruh yang luar biasa, jangan jadi buruh yang biasa-biasa saja. Bekerjalah sekaligus beribadah. Jangan hanya bekerja untuk mendapatkan penghasilan tapi niatkan sebagai bentuk ikhtiar dalam menjemput rezeki yang telah Allah siapkan. Ketika dijalani dengan sabar, ikhlas dan mengharap ridha Allah semata, maka seorang buruh bisa lebih mulia dibanding sang ‘majikan’ yang menjalankan usaha hanya untuk kepuasan nafsu duniawinya.

Selamat hari buruh intenasional (1 Mei) dan hari pendidikan nasional (2 Mei). Mari, kita berupaya untuk menjadi buruh yang berilmu.

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 16/5/2012 | 25 Jumada al-Thanni 1433 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Dakwah Islam: Madzhab Al-Asyari Dimana Salahnya?

Saefudin Juhri
Pertanyaan:
Benarkah madzhab aqidah (terutama dalam masalah asma dan sifat Allah) Imam Asy‘ari dalam aqidah yang saya pelajari di SMP dulu adalah sesat? Dimana letak kontroversinya? Bukankah Imam Nawawi penulis Riyadhush Shalihin dan Imam al Ghazali penulis Ihya Ulumuddin termasuk dalam madzhab ini? (maaf kalau saya keliru) Terimakasih atas jawabannya.
Jawaban:
Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Setiap ulama pasti memiliki kelemahan dan setiap mazhab pasti juga memiliki kelemahan. Kita terus terang harus mengakui hal tersebut. Apalagi bila kita coba menyelami bagaimana kondisi sosial di masa di mana suatu mazhab itu berdiri pertama kali. Dalam hal ini mazhab aqidah yang dibangun oleh Al-Asy‘ari sedang mengalami gempuran hebat dari kelompok rasionalis yang saat itu memang sedang di atas angin. Al-Asy‘ari mencoba menangkis semua argumen kelompok rasionalis dengan bahasa dan logika lawannya. Karena kalau dijawab dengan logika sendiri, jelas tidak akan efektif untuk menangkal argumen lawan. Sehingga kita memang melihat adanya kombinasi antara dalil aqli dan naqli yang digunakan oleh Al-Asy-‘ari. 
Pada masanya, metode penangkisan itu sangat efektif untuk meredam argumen lawan. Sebaiknya kita memang tidak membandingkannya dengan zaman yang berbeda. Karena bila hal itu dilakukan, memang di sana sini barangkali kita akan temukan hal-hal yang agak janggal. Sayangnya, oleh mereka yang kurang mengerti duduk permasalahan, kejanggalan inilah yang sering dijadikan bahan tuduhan bahwa mazhab aqidah ini sesat. Padahal dimasanya, banyak sekali para ulama yang secara otomatis berada di pihak Al-asy‘ari bila melihat tarik menarik antar kedua kelompok. Namun bukan berarti semua ulama saat itu 100% menerima/setuju dengan detail mazhabnya. Dan hal itu adalah sesuatu yang lumrah sifatnya. Dan memang kenyataannya bahwa mazhab aqidah Asy‘ariyah ini memang mazhab yang paling banyak dipeluk umat Islam secara tradisional dan turun temurun di dunia Islam. 
Di dalamnya terdapat para ulama, fuqoha, imam dan sebagainya. Meski bila masing-masing imam itu dikonfrontir satu persatu dengan detail pemikiran asy‘ari, rasanya belum tentu semuanya sepakat. Bahkan sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqoha dalam Islam adalah pemeluk mazhab aqidah al-As-‘ari. Seperti: Al-Baqillani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Fakhrurrazi, Al-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnuddaqiq Al-‘Id, Ibu Sayyidinnas, Al-Balqini, Al-‘Iraqi, An-Nawawi, Ar-Rafi‘I, Ibnu Hajar Al-‘Asqallani, As-Suyuti. Sedangkan dari wilayah barat khilafat Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (aljad), Ibnul Arabi, Al-Qadhi ‘Iyyadh, Al-Qurthubi dan Asy-Syatibi. Jangan lupa juga bahwa universitas Islam terkemuka di dunia dan legendaris menganut paham Al-Asy‘ariah dan Maturidiyah seperti Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitun di Tunis, Al-Qayruwan di Marokko, Deoban di India. Dan masih banyak lagi Universitas dan madrasah yang menganutnya. 
Para ulama pengikut mazhab Al-Hanafiyah adalah penganut paham Al-Maturidiyah Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi‘iyyah adalah penganut paham Al-Asy‘ariyah. Bila Asy‘ariah dianggap sesat, tentu saja kita perlu mengeluarkan para ulama Salaf itu dari garis Islam, begitu juga universitas Islam dan para imam mazhab. Dan mayoritas terbesar umat Islam sepanjang masa pun harus dianggap sesat pula dan keluar dari garis Islam. Tentu saja ini bukan perkara sepele. Yang benar adalah bahwa Al-Asy‘ariyah itu adalah bagian dari aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Umat Islam telah ridha kepadanya karena menjadikan Al-quran dan sunnah sebagai sumbernya. Bila pada hari ini mazhab ini kita kritisi, sangat boleh jadi ada hal-hal yang kurang tepat. Tetapi kita harus ingat bahwa masa dimana mazhab ini ditumbuhkan. Dan menurut kami, kalaupun kita akan mengoreksinya, maka itu adalah hal yang sangat baik. Tapi tentu saja caranya bukan dengan gebyah uyah dan sekedar menuduh sesat hanya karena ada point-point yang kurang tepat. 
Kurang tepat disini sebenarnya lebih kepada masalah yang kurang qath‘i, dimana masih bisa diterima adanya berbedaan paham dikalangan ulama. Karena memang nash dan dalilnya memungkinkan untuk dipahami secara berbeda. Nah kalau dalam perbedaan seperti ini, satu pihak menuduh pihak lain sebagai sesat, bid‘ah, jahil dan sebagainya, kelihatan kurang etis. Apalagi bila yang menuduhkan itu hanya mereka yang sekedar bertaqlid kepada syeikh/gurunya saja tanpa pernah menelaah secara ilmiyah dan mendasar, apa sesungguhnya yang jadi titik perbedaan di antara ulama. Dalam masalah ini, sangat baik bila kita berpegang pada kaidah bahwa setiap orang bisa diterima perkataannya atau ditolak kecuali Rasulullah SAW. 
Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.


			
			
				
					 
				
				
					
				
				
					 
				
			
			


Sumber: http://www.syariahonline.com

RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.com

Share

Dakwah Islam: Gerakan KAMMI Menulis (GKM): Menulis untuk Membangun Negeri


Logo Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

dakwatuna.com - Perkembangan teknologi dan informasi kini memiliki ranking tertinggi yang lajunya sangat dinamis bahkan dalam hitungan detik. Dengan sekali klik saja, masyarakat kapan pun bisa mengetahui informasi tentang sesuatu yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari tempat dia berada. Beragam informasi yang masuk membentuk pola pikir yang kelak selanjutnya berpengaruh pada pola perilaku masyarakat. Dengan demikian, tidaklah heran jika apa yang menjadi suara media adalah suara rakyat.

Media ibarat sebuah alat pemotong dan menulis adalah mata pisaunya. Tanpa menulis, media ibarat singa yang tidak memiliki gigi dan kuku, tidak sanggup mengaum untuk menunjukkan keperkasaannya. Menulis kini bukan lagi hanya sekedar menuangkan isi pemikiran ke dalam selembar kertas. Menulis adalah sebuah gerakan yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Melalui menulis, sebuah peradaban mampu berdiri tegak atau juga hancur.

Berangkat dari hal inilah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Madani menginisiasi lahirnya gerakan KAMMI menulis (GKM). Nama GKM itu sendiri merupakan nama yang dibentuk KAMMI Komisariat UGM untuk gerakan mengajarnya. KAMMI Madani hanya berupaya menyinergikan gerakan masif KAMMI untuk membangun Indonesia.

Pengaruh positif menulis untuk membangun negeri inilah yang tengah ditajamkan oleh KAMMI Madani. Menulis merupakan bentuk aksi nyata kami. Tanpa diimbangi dengan kekuatan tulisan (di media), aksi-aksi dalam bentuk orasi maupun unjuk rasa yang kerap digelar oleh KAMMI tidak akan memiliki power of influencing (kekuatan memengaruhi). Menulis dan aksi lapangan, keduanya adalah aksi nyata KAMMI yang bersifat bottom-up sehingga apa yang menjadi suara dan tindakan nyata KAMMI mampu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat; kelompok elit, menengah, hingga grass rootnya.

Kader KAMMI Madani diarahkan untuk menjadi pelopor dalam GKM ini. Setiap harinya, minimal satu tulisan kader akan dipublikasikan ke media, online khususnya, apapun bentuk atau jenis tulisannya. KAMMI Madani juga tengah berupaya menyebarluaskan aksi kebaikan ini dalam bentuk buletin maupun media cetak lain yang tengah beredar di masyarakat; majalah, surat kabar, dll.

Harapan kami, langkah-langkah kecil KAMMI Madani ini mampu menjadi motor bagi seluruh masyarakat, khususnya kader KAMMI seluruh Indonesia untuk turut membangun negeri, salah satunya dengan menulis.

Gerakan KAMMI Menulis (GKM), menulis untuk membangun negeri. One day one article for Indonesia’s bright future.

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 12/12/2011 | 17 Muharram 1433 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Dakwah Muslim: Aku Ingin Pulaaaang!!!


Ilustrasi (flickr.com/aremac)

dakwatuna.com – Diam, sepi, sendiri. Kucoba tetap tersenyum dan memang tangis pun tidak akan menghadirkan siapa pun dalam waktu seperti ini bukan? Siapa bilang??? Ke mana ilmu tauhid yang kau pelajari? Dimana kau tempatkan Allah di hatimu??? Apakah hanya karena temaram lampu di penghujung malam ini yang menemanimu lantas kau katakan sendiri, dan selalu sendiri???

Tidak sayang, istighfarlah dan bukalah kitab sucimu. Kau akan temukan kedamaian, kau akan dapatkan jawaban dari setiap kegelisahan yang menyeruak hingga ubun-ubun, akan kau temukan titisan ketenangan bagai kemarau panjang yang dipertemukan dengan rintik-rintik hujan, percayalah, lakukanlah, baca ayat-ayat cintaNya dengan cinta.

Angin yang membelai wajahmu itu Allah ciptakan untuk menghapus air matamu, jutaan bintang itu Allah ciptakan untuk menemani kesendirianmu, senyuman rembulan itupun adalah untukmu… untuk mu sayang, untuk kau pahami bahwa kau tidak pernah sendiri. Jika kau memang tak bisa mendengar gelak tawa sahabatmu di seberang sana, dengarlah, ada yang lebih setia dari mereka, yang tak pernah membiarkanmu sendiri, dengarlah detak itu, detak yang sejak lahir Allah anugerahkan untukmu, untuk apa??? Untuk kau tafakuri bahwa kau tidak pernah memiliki satu masapun sendiri di fananya alam ini, detak yang lebih setia daripada kisah persahabatan, dari pada kisah percintaan, yang lebih dekat dengan hatimu, tapi sedikit lebih jauh dari telingamu, sehingga sering kau lupa mensyukuri anugerah ini, detak ini hanya akan terdengar kala tak ada detak lain yang menyaingi kelembutan suaranya. Detak yang keberadaannya membuat eksistensimu di dunia ini tidak diragukan. Tahukah kau?? Sunyi itu Allah ciptakan agar kau lebih menghargai detak ini.

Perasaan itu kembali menelisik dalam singkatnya malam bulan Juni di pelataran Eropa, kubaca Al Qur’an, gemericik hujan di pipi membuncahkan rindu itu lagi, sejenak aku kembali diam, menghitung bulan, minggu dan hari, bahkan jam, tak lama lagi akan aku peluk pujaan hatiku, tak lama, tak lama lagi, cobalah untuk sabar.

Tiket pesawat telah kubeli, kulihat tanggal kelahiranku sebagai tanggal aku akan memijakan kakiku kembali di tanah Indonesia setelah hampir 2 tahun meninggalkannya. Memang belum terlalu lama jika dibandingkan dengan kisah perantauan Abdullah Khoirul Azzam dalam Ketika Cinta Bertasbihnya kang Abik. Tapi aku adalah aku, yang tak kuat menelan pil kerinduan ini terlalu lama. Liburan musim panas yang panjang dan tiket pesawat yang terbilang lebih murah memberikan izin untukku sedikit berani merealisasikan sebuah harapan sederhana, harapan yang lumrah bagi setiap pemilik hati yang diselimuti rindu,

“Lebaran di kampung halaman bersama segenap keluarga terkasih….“

Terlebih ada yang spesial… Usiaku genap seperlima abad saat pesawat Emirates mengudara dari Frankfurt menuju persinggahan sementara, Dubai… tepat dengan seatNr. 28A.

Itulah rencana, yupp… manusia hanya bisa berencana, tak memiliki satu ketetapan pun yang menjamin pertemuan yang diagendakan itu akan menjadi sebuah kenyataan.

Untuk tetap bertemu dengan detak ini pun aku tak tahu.

Seperti rencana umi dan bapak yang diutarakannya kemarin via telepon,

“Nanti kita jemput di bandara yaah, umi dan bapak mau nyengcelengan (nabung) untuk jemput neng“

Gerimis kembali menghiasi pelupuk mataku, untuk sebuah perjumpaan dengan yang tercinta diprogramkan jauh-jauh hari sebelumnya. Terbayang sudah pelukan hangat umi, ciuman sayang bapak, senyuman teteh dan aa, dan gelak tawa keponakanku, rencana itu begitu indah tergambar meski tak ada jaminan.

Perjumpaan denganNya, sang peniup hawa rindu dan pengabadi kisah cinta, yang merupakan sebuah kepastian, apakah telah kita persiapkan???

Kali ini bukan hanya gemericik dan gerimis lagi yang membuat sembab mataku, beralih menjadi hujan deras di pipi saat teringat aku belum memiliki apa-apa, aku belum memiliki bekal untuk berjumpa dengan yang aku bilang “kekasih sejati“.

Dalam Rencana dan harapan, terbesit sebuah ketakutan.

“Umi dan bapak selalu mendoakan neng agar neng sukses“.

Tahukah umi, bapak, teteh, aa, gadismu ini, adikmu ini selalu berdoa agar kalian selalu bahagia, bahagia dengan kucuran cintaNya yang tak pernah henti membanjiri relung hati, bahagia dengan apapun ketetapan yang telah Allah berikan.

Aku berharap kalian akan tetap berbahagia jika sukses yang aku inginkan adalah segera berjumpa dengan kekasih yang selalu menemani, selalu menghapuskan rongrongan kesendirian ini, yang menyeka butir-butir bening yang lahir ketika keresahan menggulung hati, yang mengatakan,

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat; Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(Al Baqarah 186)

Kata-kata cinta itu yang mampu menenangkan gegap gempita kegelisahan yang melanda jiwa saat tak ada seorang pun menyertai perjalanan terjal ini. Umi, bapak, teteh, aa… semuanya… aku ingin pulang… ingin segera pulang,

Aku ingin pulang dalam keadaan sukses, kesuksesan yang sebenarnya adalah ketika kita pulang keharibaanNya dalam keadaan husnul khatimah, itulah konsep sukses yang terpatri dalam benakku. Ya… aku merindukanNya, semakin hari semakin kupahami dunia hanyalah kesenangan yang semu, kejadian demi kejadian yang memindahkan aku dari suatu tempat ke tempat lain semakin mengingatkan aku bahwa hidup di dunia ini hanya singgah saja, hanya berjalan menapaki skenario yang telah Allah gariskan, kadang kita terlena melihat kemegahan- kemegahan tempat singgah kita sehingga lupa bahwa ada saatnya kita pulang.

Sebenarnya sama saja bukan seperti singgah di Dubai yang hanya beberapa jam saja?? Meski di sana ada gedung termewah dan hotel termahal, kita hanya bisa melihatnya saja, tanpa memilikinya. Kita ini terlalu sombong hanya karena telah singgah di tempat mewah, padahal tempat pulang kita adalah sama pada akhirnya, hanya saja rute perjalanan kita yang berbeda, untuk sampai ke Indonesia dari Jerman saja tak hanya singgah di Dubai rutenya, ada yang transit di Singapore.

Betulkah tempat pulang kita sama?? Tidak, tempat pulang kita ditentukan oleh jalan yang kita tempuh. Selalu ada kiri bersama kanan, Tapi tujuan kita sama kan??? JannahNya, semoga kita sampai kepada tempat yang keindahannya lebih indah dari apapun yang terbesit di hati, yang kemegahannya lebih megah dari segala yang pernah terlihat, yang kemewahannya jauh lebih mewah dari apa-apa yang pernah kita dengar. Dan semoga kita terhindar dari tempat abadinya penderitaan.

“Dunia ini bagaikan jembatan untuk mencapai pulau impian kita bernama Akhirat, tidak masuk akal bukan jika seseorang membangun istana megah di jembatan????“

Dan aku termasuk orang yang tak terlalu pandai menjaga hatiku agar tidak tergoda dengan berbagai angan- angan yang hanya berorientasi kebahagiaan dunia, aku juga terlalu lemah untuk terus berlari mengejar kesenangan yang sesaat itu. Maka aku ingin segera pulaang…… Salahkah??? Astaghfirullah… ya Allah maafkanlah aku, aku masih merasa kesulitan untuk membedakan putus asa dengan rindu berjumpa denganMu, jika ini adalah keputus asaan, tolong kuatkanlah aku… kuatkan ya Allah…jauhkan aku dari putus asa… Lahaula walaquwwata illabillah ….tapi Jika ini adalah kerinduan untuk menatap wajahMu, deraskanlah rasa ini ya Rahim.

Aku adalah sebutir pasir yang tidak memiliki keistimewaan, tapi aku merasa sangat istimewa karena kalian orang-orang yang istimewa merasa bahagia memilikiku, umi, bapak, teteh, aa, keponakan-keponakanku, aku cukup merasa berarti ketika kalian mengatakan,

“Tetangga ramai menceritakanmu, mengatakan bangga padamu, sungguh, ibumu, bapakmu dan keluargamu lebih dan sangat bangga padamu sayaang“

Aku tak perlu mengetahui mereka bangga, mereka tak pernah tau isak tangis kita, luka-luka yang kita bawa, bisa yang kita telan, jadi apa guna menceritakan mereka bangga padaku, cukup kata-kata yang terakhir yang aku tunggu selama ini, dan akhirnya aku mendapatkannya, terima kasih. Saat ini aku masih harus menginjak paku-paku tajam itu, aku takut, aku takut kata-kata yang pernah indah terdengar itu hilang karena aku tak bisa menjadi mutiara yang selalu menjadi mutiara di manapun berada Berselimutkan sutra atau pecahan kaca, mutiara tetaplah mutiara dengan cahaya yang memukau pandangan mata. Aku takut umi, takut, langkah kakiku mulai melemah.

Entah bisikan yang baik atau jahat yang tiba-tiba akhir- akhir ini sering melintas di benakku,

“Mungkin ini saat yang tepat aku kembali kepada Pemilikku, sebelum takabur menyinggahi salah satu bilik hati, atau??? Telahkah aku takabur dengan merasa menjadi baik sehingga mengatakan ini waktu yang tepat untuk pulang???“ Sebuah harapan atau ……., ahh…lagi-lagi perasaan itu terlalu sulit untuk dideteksi dengan nalar dan logikaku.

Allah… jagalah hatiku, jagalah imanku.

Keluargaku, Akan kuceritakan satu-satunya hal yang bisa membuat aku tetap berjalan meski taburan duri di hadapan, yaitu, keyakinan bahwa kelelahan dan rasa sakit ini tidak akan menjadi abadi jika kita menjalaninya lillah. Seperti apa yang telah diajarkan kalian bukan??? Terima kasih telah mengajariku mengenal Allah, Tuhanku, Tuhan kita, Tuhan Semesta.

Aku merindukan kalian, tapi perasaan ini lebih mencengkeram… ahhh… tapi tidak dibenarkan jika kita mengaharapkan kematian,

Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan janganlah meminta kematian sebelum datang waktunya. Apabila seorang di antara kalian meninggal, maka terputus amalnya. Dan umur seorang mukmin tidak akan menambah baginya kecuali kebaikan. (HR Muslim)

Baiklah, tapi tidak salah bukan jika aku ingin menitipkan pesan, “Jika suatu hari nanti aku tak sempat meminta maaf atas segala khilaf dan salah, aku mohon maafkanlah … dan aku mohon jangan ratapi kepergianku dengan kesedihan… tetaplah berdoa seperti do’a yang dulu mi, pak, teh, a, tetap do’akan agar aku sukses, dan mencapai cita-citaku, juga cita-cita kita, menatap wajahNya di JannahNYa.“

Salam cinta tiada tara, salam rindu yang menggebu.

UntukMu, untuk kalian yang tercinta.

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 13/7/2012 | 24 Shaban 1433 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Dakwah Muslim: Membaca Kasih Sayang Allah

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 10/3/2009 | 14 Rabbi al-Awwal 1430 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Artikel Syariah: Pengertian TAQIYAH

Ade
Pertanyaan:
Apa yang dimaksud dengan taqiyah? Tolong jelaskan. Terimakasih.
Jawaban:
Assalamu‘alaikum Wr. Wb. TAQIYAH yaitu siasat berbohong dan menyembunyikan inti ajaran yang menyimpang dengan menampilkan segala sesuatu yang kelihatan sesuai dengan pendapat orang kebanyakan. Inti ajaran dan identitas aqidah suatu paham disembunyikan sedemikian rupa dan berpura-pura tidak memiliki perbedaan dengan lingkungannya dengan cara tidak menampakkannya agar orang-orang mengira apa yang diajarkan itu sesuai dengan masyarakat. Bila pendekatan kepada calon pengikut sudah berhasil, barulah inti ajaran itu dibuka. Namun si pengikut itu sudah berhasil didoktrin sedemikian rupa sebelumnya sehingga sudah diperhitungkan bahwa dia tidak akan menolak ajaran sesat itu, bahkan malah menjadi pendukung utamanya. 
Taktik licik ini dahulu banyak digunakan oleh kelompok yang menyimpang dari ajaran ahli sunnah wal jamaah seperti Syiah dan lainnya. Dengan cara itulah mereka berhasil menggaet pengikut yang lumayan banyak. Karena mereka selalu menyembunyikan jati diri dan identitas aqidah sesat mereka. Barulah mereka akan terang-terangan menjelaskan aqidah mereka manakala calon pengikut itu dirasa sudah pasti tidak akan menolaknya. Meski bukan monopoli, namun siasat taqiyah itu banyak dilakukan oleh kelompok syiah. Dan diantara ajaran sesat yang sering mereka sembunyikan dari pengetahuan khalayak antara lain: 
1. Sekte Sabaisme. Dalam Syiah berkeyakinan bahwa Jibril salah menurunkan wahyu kepada Muhammad, seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib. 
2. Mereka memiliki mushaf Al-Quran versi mereka sendiri yang isinya tidak sama dengan mushaf yang dikenal sekarang ini. Kulaini menjelaskan dalam bukunya “Al-Kafi” bahwa Ja‘far Shodiq berkata, ”Kami mempunyai mushaf Fathimah. Sebuah mushaf yang isinya seperti Al-Quran kalian 3 kali. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun isinya dari Al-Quran kalian”. 
3. Mereka meyakini bahwa imam mereka ada 12 dan semuanya memiliki mukjizat seperti Nabi dan telah diberi wasiat dan rahasia ajaran Islam. Sehingga mereka berhak menerangkan ajaran Islam yang orang lain tidak diberitahu menjadi rahasia mereka sendiri. Mereka yakin bahwa para imam itu dititipi ilmu oleh Rasulullah SAW untuk menyempurnakan syariat. Tidak ada perbedaan antara imam dengan Rasulullah SAW kecuali bahwa Rasulullah SAW menerima wahyu. 
4. Para imam itu diyakini berada pada derajat ma‘shum yang tidak mungkin berdosa dan terpelihara dari segala kesalahan, kelalaian serta dosa-dosa baik besar atau kecil. 
5. Mereka meyakini bahwa imam mereka yang ke-12 sedang ghaibah (menghilang) ke dalam sebuah gua di Samara (surro man ra‘a), sebuah kota kecil di Iraq dekat sungai Tigris utara Baghdad. Suatu hari nanti imam ke-12 itu akan muncul lagi (roj‘ah). Karena itu sekarang setiap ba‘da maghrib mereka rajin berdiri di pintu gua bahkan menyediakan sebuah kendaraan untuk pergi. Perbuatan ini terus berlangsung tiap malam. Harapan mereka imam itu akan datang untuk memenuhi keadilan sebagaiman bumi sedang dipenuhi dengan kekejaman dan kezoliman. Imam ke-12 ini juga akan melacak lawan-lawan syiah sepanjang sejarah. 
6. Salah satu daya tarik mereka untuk mencari pendukung adalah ‘fasilitas’ kawin mut‘ah atau kawin kontrak. Hakikatnya tidak lebih dari pelacuran yang diberi kemasan agama. Dengan beragam dalih, mereka menghalalkan zina seperti ini. Memang sejarahnya, Rasulullah SAW pernah membolehkan nikah mut‘ah, namun setelah itu dilarang secara total dan hukumnya dinasakh. Semua shahabat dan para ahli ilmu sepakat bahwa mut‘ah itu telah diharamkan Allah selamanya. Oleh kelompok syiah, nikah seperti ini dibolehkan dan menjadi salah satu pesona dan daya tarik buat mereka yang suka zina. 
7. Mereka juga memiliki hari raya yang lebih mereka hormati dari Idul Fithri dan Idul Adha, yaitu hari raya Ghadir Khom. Selain itu mereka juga mengagungkan hari raya Nairuz, hari raya agama majusi penyembah api. Juga hari raya tanggal 9 Rabiul Awwal sebagai hari raya ‘bapak’ mereka, Abu Lu‘lu‘ah. Abu Lu‘lu‘ah adalah orang yang berhasil membunuh Umar bin Al-Khattab. 
8. Kebencian mereka kepada para sahabat Nabi dan mengatakan mereka berdosa telah merampas khilafah dari Ali bin Abi Thalib. Sebagian syiah malah mengkafirkan para shahabat Nabi radhiyallahu anhum. Sebaliknya mereka mengagungkan ahlul bait atau keluarga nabi. Ahlul bait ini adalah para shahabat nabi yang utama, tetapi oleh kelompok syiah ini, ahlul bait diseret-seret masuk dalam perangkap aqidah mereka, sehingga seolah-olah antara ahlul bait dengan shahabat yang lain ada pemisah dan permusuhan. Dalam rangka taqiyah, doktrin sesat seperti pasti tidak akan pernah mereka akui di awal perkenalan. Bahkan mereka sering bersumpah bahwa mereka bukanlah syiah dan juga tidak berpendirian sesat seperti itu. Namun kenyataan yang sering terjadi mengatakan kebenaran siasat taqiyah ini. Karena bila seorang pengikut dianggap sudah matang, barulah doktrin sesat itu diberikan. 
Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

			
			
				
					 
				
				
					
				
				
					 
				
			
			


Sumber: http://www.syariahonline.com

RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.com

Share

Dakwah Muslim: Perjalanan Jakarta – Bangkok; Mengenang Petualangan Haraki Seorang Putri


Ilustrasi (math.nie.edu.sg)

dakwatuna.com - Hari ini, Senin 13 Juni 2011, jam 13.04 waktu Jakarta (WIB), saya sudah duduk di bangku pesawat terbang. Saya dan rombongan akan terbang ke Bangkok.

Layar monitor di depan saya menyuguhkan informasi perjalanan yang akan kami tempuh:

a. Ada peta kawasan Asia Tenggara dengan negara-negara anggotanya: Burma, Thailand, Kamboja, Laos dan Vietnam dalam satu deretan. Di bagian bawah negara-negara tadi ada Malaysia, Singapura, Brunei dan Philipina. Dan pada bagian paling bawah ada Indonesia dan Timor Leste. Negara benua Australia juga tampak dalam layar monitor tersebut.

b. Ada juga informasi jarak perjalanan yang akan kami tempuh, perjalanan Jakarta menuju Bangkok. Total perjalanan yang akan kami tempuh adalah 1426 mil, cukup jauh, lebih dari 3 jam perjalanan dengan kapal terbang.

Saat itu, ada beberapa hal terlintas dalam pikiran saya, di antaranya:

1. Di abad VII – VIII M, kekuasaan kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang Sumatera Selatan dan beragama Budha, pernah sampai di kawasan atas dari peta Asia Tenggara ini.

2. Di abad XIII – XV M, kekuasaan kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan Jawa Timur dan beragama Hindu, juga pernah sampai di kawasan ini.

3. Di sekitar abad XIV M, di negara yang sekarang bernama Kamboja (ingat nama bunga Kemboja), pernah berdiri sebuah kerajaan Islam Campa (ingat nama bunga Cempaka). Ada yang menarik dari negeri dan kerajaan Campa ini, paling tidak, ada dua hal yang menarik, yaitu:

a. Negeri Campa muslim menjadikan salah satu fungsi negaranya adalah melaksanakan dakwah Islam dan menyebarkannya (nasyrul fikrah) di kawasan di bawahnya, mulai dari Thailand selatan, Malaysia, Sumatera, dan Jawa. Bahkan, para walisongo di Jawa, hampir seluruhnya mempunyai hubungan dengan negeri Campa ini. Bisa kita bayangkan, betapa gigih dan militannya para dai dari negeri Campa ini. Mereka telah menempuh perjalanan yang tidak dekat demi menjalankan kewajiban dakwah Islamiyah ini. Terlebih lagi jika kita ingat bahwa mereka menempuh perjalanan laut yang sangat berat.

b. Menurut cerita, kerajaan Campa yang beragama Islam, menyerahkan salah seorang putrinya yang sangat cantik jelita kepada Brawijaya, salah seorang raja Majapahit, agar dijadikan permaisuri sang raja. Saya tidak tahu bagaimana “ijtihad fiqih haraki” zaman itu, yang saya tahu, sang putri yang lalu menjadi permaisuri raja itu beragama Islam, ia adalah saudara kandung Sunan Ampel, salah seorang walisongo. Yang jelas, sang putri yang menjadi permaisuri itu tetap menjalankan misi dakwah Islam, harapannya, ia mempunyai seorang putra yang akan dididiknya menjadi seorang muslim, dan sebagai putra raja, ia berpeluang menjadi putra mahkota!

Menurut cerita, misi sang permaisuri terbongkar, maka ia dicerai oleh sang raja dan dihibahkan kepada bupati Palembang yang bernama Arya Damar, sebuah bentuk halus dari hukum buang. Waktu itu sang putri dalam keadaan hamil, dan saat melahirkan, ternyata anaknya laki-laki, itulah dia pangeran Jinbun yang kemudian bergelar Raden Fatah, pendiri kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

Diceritakan pula bahwa adipati Arya Damar akhirnya juga masuk Islam.

Sungguh, sebuah “petualangan” misi dan dakwah yang luar biasa, setelah ada ijtihad fiqhi dan haraki yang juga luar biasa!!!

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 8/8/2011 | 09 Ramadhan 1432 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Dakwah Muslim: Ibu, Sang Arsitek Peradaban


Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah. Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia.

Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya. Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Allah akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.

Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab RA.

Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid. /> Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih. /> Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”

Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?”

“Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya. /> Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Allah, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”

Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan. /> Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.

Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Allah.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.

Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Allah. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya. /> Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Allah menjadikannya pribadi yang unggul.

Keteladanan wanita-wanita tersebut menjadi bukti vitalnya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh DR. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam konferensi dunia tentang wanita di Beijing. Berikut tuturannya :

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang, menurut Katme, tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! Anda justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.

Kemuliaan peran keibuan dewasa ini pun semakin tergerus oleh serangan barat. Setelah Quran dan Sunnah Nabi, hal yang kerap kali diserang oleh para orientalis adalah wanita dan perannya dalam keluarga.

Ide-ide feminisme, kesetaraan gender, dan kebebasan wanita saat ini gencar disuarakan barat kepada umat Islam. Kita pun tahu, tidak sedikit yang terjebak untuk mencicipi racun atas nama kebebasan wanita tersebut. Akhirnya, hancurlah kemuliaan dan martabat wanita diikuti dengan runtuhnya pilar-pilar keluarga dan pendidikan anak.

Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.

Muslimah perlu menyadari peran vitalnya sebagai seorang ibu. Ibu bukan hanya tiga huruf, I – B – U, yang begitu sederhana hingga mudah dilupakan. Ibu bukan hanya predikat sepele sehingga perannya tidak perlu dipenuhi.

Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Allah lah yang menjadikannya begitu mulia. (hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 25/10/2010 | 17 Dhul-Qadah 1431 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Artikel Muslim: Kebersadarjagaan Mencintai


Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

dakwatuna.com – “Wahai Rasulullah,” kata gadis muda itu, “Sungguh, Engkau telah memberi kesempatan kepada saya terhadap apa yang dilakukan oleh ayah saya. Saya setuju dengan apa yang telah ayah saya lakukan.”

Begitulah kira-kira jawaban yang disampaikan oleh sang gadis muda itu tatkala Rasulullah memberikan hak khiyar (memilih) untuk memutuskan tentang pernikahan yang dilakukan terhadapnya oleh sang ayah tanpa persetujuannya. Diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah bahwa sebelumnya sang gadis menemuinya dan menceritakan kondisi permasalahan yang dialaminya.

“Ayahku telah menikahkanku dengan keponakannya untuk mengangkat derajatnya dengan jahatnya. Dan aku tidak suka,” kisahnya.

‘Aisyah tidak dapat memutuskan soal itu. “Tunggulah di sini sampai Rasulullah datang,” katanya. Maka, kemudian datanglah Rasulullah kepada ‘Aisyah dan gadis muda itu. Mengalirlah kisah pilu si gadis itu kepada Rasulullah, ia menginginkan penyelesaian dari Rasulullah tentang pemaksaan pernikahan yang dilakukan ayahnya terhadapnya. Mendengar penuturan itu, Rasulullah pun mengirim utusan untuk memanggil ayah si gadis.

Di hadapan sang ayah, Rasulullah memutuskan bahwa pemaksaan yang dilakukan sang ayah tidak berlaku. Beliau juga menyerahkan keputusan itu kepada sang gadis. Namun, jawaban sang gadis memang sangat mengagumkan dan menunjukkan kecerdasannya.

“Ya Rasulullah,” jawabnya, “Saya setuju dengan apa yang ayah saya lakukan, tapi saya hanya ingin tahu apakah perempuan berhak untuk menentukan pernikahannya.”

Jawaban yang cerdas dan penuh hikmah itu dicatat oleh Imam An Nasa’i dari ‘Aisyah. Sementara itu Abdullah ibnu Abbas juga meriwayatkan hadits serupa sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Majah dengan sanad shahih nomor 1520. Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Sang gadis memang cerdas dalam mengambil tindakan sang ayah yang memaksanya untuk dinikahi oleh lelaki pilihan sang ayah. Ia menyadari bahwa tujuan sang ayah menikahkannya dengan lelaki itu bukan untuk kebaikan dirinya maupun untuk kebaikan kehidupan dan agamanya. Ia sangat sadar bahwa sang ayah menikahkannya semata-mata agar derajat sang ayah dapat terangkat melalui hubungan kekerabatannya dengan anak saudaranya itu. Dan si gadis menganggap bahwa perbuatan sang ayah itu adalah perbuatan yang jahat. Maka, ia mencoba meminta kepastian hukum kepada Rasulullah dengan mendatangi Ummul Mu‘minin ‘Aisyah agar dapat dipertemukan dengan Rasulullah dan memutuskan hukum terkait pernikahannya yang terpaksa.

Rasulullah kemudian memutuskan perkaranya dan memberinya hak khiyar atas pernikahan itu. Namun, sang gadis malah menjawab bahwa ia telah menerima keputusan sang ayah yang memaksanya menikah dengan anak saudaranya itu. Ia memutuskan bahwa ia menerima pernikahan tersebut dan bersedia menjadi suami bagi sepupunya itu meskipun ia tidak menyukainya, sebagaimana sebelumnya ia sampaikan kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah.

Ia mengambil sebuah keputusan atas pilihan yang telah disodorkan oleh Rasulullah: menerima pernikahan itu atau menolaknya. Dan keputusannya berakhir dengan kemantapan, ia memilih dan memutuskan untuk menerima pernikahan itu. Di sini, ia sangat sadar bahwa dengan mengambil keputusan itu berarti ia siap menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang tidak disukainya, bahkan mungkin dibencinya. Namun, dengan kebulatan keputusan itu, sebuah keputusan yang diambilnya secara sadar jaga, maka ia juga telah memilih sebuah konsekuensi logis dengan menjadi seorang istri dari seorang lelaki. Dan konsekuensi itu adalah ketaatan, pengabdian, bakti, pengorbanan, hak dan kewajiban secara psikis dan biologis, serta kewajiban mencintai. Kewajiban mencintai. Sebuah keputusan yang diambilnya secara sadarjaga.

Sang gadis telah melalui fase dalam sebuah perjalanan cinta yang senantiasa ada: pilihan, keputusan, dan konsekuensi. Tindakannya dalam memilih salah satu keputusan, mengambil keputusan, dan menerima serta melaksanakan konsekuensi dari keputusan itu adalah sebentuk kebersadarjagaan mencintai, mencintai sang suami yang sebelumnya dibencinya.

Tidak jauh berbeda setelah masa-masa itu. Tatkala Utsman bin Affan menjadi Khalifah Rasul yang ketiga, menggantikan posisi Amirul Mukminin Umar bin Khathab yang syahid di tangan kafir Majusi. Kala itu ia memutuskan untuk menikah yang kesekian kalinya. Usianya memang tidak muda dan bahkan sudah sangat terbilang tua. Saat itu, ia telah berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih dan kekuatan jasadnya tidak lagi seperti pemuda.

Dan yang lebih mencengangkan adalah bahwa ia menikahi seorang gadis belia yang baru mekar. Usianya baru delapan belas tahun tatkala pernikahan itu terjadi. Namanya adalah Nailah binti Al Qurafashah atau Nailah binti Al Farafishah Al Kalbiyah, seorang gadis cantik dari negeri Syam. Bukan hal mudah bagi keduanya untuk saling membersamai dalam singgasana pernikahan mengingat usia mereka yang terpaut sangat jauh, delapan puluh dan delapan belas. Namun, keduanya telah memutuskan untuk mencintai.

“Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini,” kata Utsman tatkala pertama kali menyambut Nailah. “Apakah engkau tak keberatan menikah dengan seorang pria tua bangka?”

“Saya termasuk perempuan yang lebih suka memiliki suami yang lebih tua,” jawab Nailah sambil tertunduk. Rasa malu menggelayuti hatinya.

“Namun, aku telah jauh melampui ketuaanku,” kata Utsman kembali. Ia seakan menguji kesungguhan keputusan gadis cantik yang mau dinikahinya itu, menelisik kesungguhan keputusannya untuk mencintai lelaki tua seperti dirinya.

“Tapi masa mudamu sudah kau habiskan bersama Rasulullah,” jawab Nailah sambil tersenyum, “Dan itu jauh aku lebih sukai dari segala-galanya.”

Selanjutnya Utsman dan Nailah hanya memberikan bukti atas keputusan mereka bersekutu dalam ikatan pernikahan itu. Utsman mencintai Nailah dan Nailah pun mencintai Utsman. Keduanya merupakan para pecinta sejati yang senantiasa melaksanakan pekerjaan-pekerjaan cinta bagi orang yang dicintainya. Maka, keduanya saling memberi, saling memperhatikan, saling menumbuhkan, saling merawat, dan saling melindungi.

Nailah yang disirami kerja cinta dari sang suami pun tumbuh dan semakin mekar. Ia menjadi salah satu perempuan yang pandai bertutur kata dan sangat menguasai sastra. “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku,” kata Utsman suatu ketika mengenai Nailah. Darinya, Utsman memperoleh putri bernama Maryam dan Anbasah.

Sejarah membuktikan kejujuran cinta mereka. DR. Sa’id bin ‘Abdul ‘Azhim menceritakan untuk kita dalam Mu’asyarah bil Ma’ruf bukti kerja cinta mereka. Tatkala para pemberontak mendatangi Khalifah Utsman bin Affan di rumahnya untuk membunuhnya, bangkitlah istri yang dicintai dan mencintainya itu, Nailah binti Al Qurafashah, dengan membiarkan rambutnya terurai, seakan-akan dia bersiasat dengan berusaha menggoda sifat kejantanan para pemberontak tersebut. Spontan Utsman berteriak dan membentaknya, seraya mengatakan, “Ambillah kerudungmu! Demi umurmu, kedatangan mereka lebih ringan bagiku daripada kehormatan rambutmu.”

Ketika salah seorang pemberontak masuk ke dalam rumah dan membabat Utsman yang sedang membaca mushaf Al Qur’an hingga darahnya menetes ke mushaf itu, Nailah tidak tinggal diam. Seorang pemberontak lain yang menerobos masuk dicegah oleh Nailah dan merebut pedang yang dibawa si pemberontak itu. Namun, pemberontak itu dapat merebut pedangnya kembali. Ia menebaskan pedangnya dan memotong jari-jemari lentik Nailah yang melindungi sang suami. Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa Nailah menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Utsman untuk melindungi tubuh sang suami dari sabetan pedang para pemberontak hingga jarinya tertebas.

Para pecinta sejati memang senantiasa memberikan perlindungan yang terbaik bagi orang yang dicintainya. Meski harus berkorbankan harta, meski harus berkorban raga, meski harus berkorban nyawa. Bahkan kemudian, potongan jari Nailah bersama baju Utsman dibawa ke hadapan Mu’awiyah di Syam untuk menunjukkan bukti kekejaman para pemberontak dalam membunuh Utsman. Sebuah bukti cinta yang sangat mengagumkan.

Utsman demikian dalam mencintai Nailah. Karena itulah Nailah pun merasakan dan mencintai Utsman dengan sangat mendalam. Curahan cinta Utsman kepada Nailah memenuhi seluruh ruang di hati Nailah hingga mampu menggerakkan dirinya menjadi tameng bagi kesewenang-wenangan para pembunuh terhadap suaminya, seorang lelaki yang senantiasa menghidupkan malam dengan Al Qur’an dalam rangkaian rakaatnya. Utsman senantiasa membuktikan bahwa ia mencintainya dalam keadaan susah dan senang. Maka, semakin luaslah ruang hati Nailah untuk menampung cinta dari sang suami. Demikian pula kesadarannya untuk mencintai lelaki tua itu. Ruang hatinya terlalu penuh dengan cinta dari lelaki tua itu hingga tak mampu terisi oleh cinta yang lain.

Maka, ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan menyampaikan pinangannya untuk janda Utsman bin Affan itu, Nailah dengan tegar menjawab, “Tidak mungkin ada seorang manusia pun yang bisa menggantikan kedudukan Utsman di dalam hatiku.” Bahkan, kemudian ia merusak wajahnya yang cantik untuk menolak semua peminang yang datang kepadanya. Ia memutuskan untuk hanya mencintai Utsman, lelaki tua itu.

Mencintai adalah sebentuk pernyataan kesiapan diri untuk melakukan kerja-kerja cinta. Maka, mencintai bukanlah tentang romantisme, melankolisme, erotisme, kemesraan, khayalan, dan keindahan semata, namun tentang kerja cinta dan pertaruhan kepribadian serta integritas si pecinta, walaupun kita tidak menafikkan eksistensi hal-hal indah tersebut. Mencintai adalah pekerjaan yang besar dan berat. Karena itu, mencintai adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Namun, hanya sedikit orang yang menyadari hal ini.

Dalam Serial Cinta, Anis Matta mengisahkan tentang pecinta yang tak kalah dahsyat dalam mencintai. Ini tentang seorang perempuan yang sama sekali tidak cantik. Ia memiliki wajah yang jelek. Kulitnya berwarna hitam keriput. Usianya sudah tua. Dipadu dengan kenyataan bahwa dia seorang diri yang tidak kaya. Rumah yang dimilikinya seperti rumah hantu. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menikah. Sebabnya tentu saja sederhana, ia tidak menarik bagi seorang lelaki pun untuk menikahinya.

Sebagai seorang perempuan, tentu ada keinginan di hatinya untuk membina rumah tangga dengan seorang lelaki, berbahagaia bersamanya, dan menyandang status sebagai seorang istri. Ia sangat ingin menjadi seorang istri. Maka, ia bertekad untuk menjadi istri bagi seorang lelaki. Dikumpulkannya harta berupa emas dalam jangka waktu yang lama. Ia berencana ‘membeli’ seorang suami dengan emas-emas yang dimilikinya itu. Dan gayung pun bersambut.

Seorang lelaki bersedia menikahinya. Ia adalah seorang lelaki yang tampan dan kaya. Sungguh, ini adalah keputusan yang besar bagi sang lelaki untuk menikahi perempuan ini. Namun, ia tetap kukuh untuk menikah. Dan pernikahan pun terjadi.

Di rumah sang perempuan yang dinikahinya, kegamangan kembali muncul di hati sang lelaki. Ia meragukan kemampuan dirinya untuk menjalani keputusannya. Sejenak. Ia kembali menguatkan tekadnya dan teguh pada keputusannya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Ia telah mengambil keputusan dan siap dengan segala konsekuensinya.

“Ini emas-emasku yang sudah lama ku tabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi istri,” kata si perempuan itu. Ia merasa bahwa ia memang hanya pantas untuk ‘membeli’ suami dan tidak pantas dicintai oleh seorang lelaki.

Namun, jawaban lelaki itu mengejutkannya. Lelaki tampan dan kaya itu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi.”

Semua orang terheran-heran, tulis Anis Matta. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian, orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitamnya dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.”

Bisa jadi kita hanya kan berdecak kagum menyaksikan hal-hal ajaib semacam ini. Namun, jika kita memahami bahwa seseorang yang memilih sebuah pilihan, mengambil kuputusan, dan siap menerima konsekuensi logis atas pilihan tersebut, maka tidak ada hal yang ajaib bagi kita. Kisah-kisah cinta yang dahsyat itu menjadi logis karena pemahaman akan kerja cinta mereka yang sebenarnya sederhana tapi melelahkan itu: mencintai.

Mungkin kita terlalu sering menyaksikan orang-orang yang merasai cinta di dalam hidup mereka. Terlena dengan kegembiraan, kebahagiaan, romantisme, kemesraan, erotisme, dan keterlukaan terus-menerus. Terlalu sering kita menyaksikan orang-orang yang berbunga-bunga dan seakan menjadi kehilangan akal sadarjaganya tatkala ia mengaku sedang jatuh cinta. Mereka mengaku mencintai seseorang. Namun, tingkahlaku dan kesadarannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia mencintai. Benar bahwa mereka merasakan cinta, tapi belum tentu ia mencintai. Karena cinta adalah kata benda, dan mencintai adalah kata kerja. Kebersadarjagaan, keinginan, kemauan, keputusan, kemampuan, dan tindakan mencintai. Semua orang dapat merasakan cinta, tapi tidak semuanya dapat mencintai seseorang. Bisa jadi Kita termasuk orang yang sudah ribuan kali jatuh cinta, tapi mungkin sama sekali belum pernah mencintai seseorang. Ya, belum pernah sekali pun mencintai. (hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 27/12/2010 | 20 Muharram 1432 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Dakwah Islam: Antara Wahn dan Zuhud


Ilustrasi (blogspot.com/tiffinbiru)

dakwatuna.com - Suatu hari Rasulallah SAW pernah berkumpul di hadapan para sahabat. Beliau menyampaikan satu kalimat yang membuat para sahabat cukup tercengang. Beliau bertanya tentang apa yang disebut sebagai al wahn. Sahabat pun bertanya-tanya apa gerangan yang dimaksud al wahn. Rasulallah saw menjawab, “Al wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati.”

Al wahn, pokok persoalan sebenarnya bukan pada cinta dunia, tetapi lebih kepada ketika hati sudah cinta dunia melebihi apapun. Di saat yang sama, Al wahn menyebabkan seorang mukmin takut pada kematian. Oleh karena itu, Al wahn menjelma menjadi sebuah penyakit yang bisa mematikan potensi keimanan. Tidak hanya itu, bahkan sampai pada potensi amal seorang insan. Lalu bagaimana agar hati tidak tertimpa penyakit al wahn. Jawabannya setiap kita harus memiliki satu sikap sebaliknya, yakni zuhud.

Zuhud sebagaimana Rasulallah saw sabdakan dalam bentuk perintah kepada kita, “Cukupkanlah dirimu terhadap apa yang ada di dunia, niscaya Allah swt akan mencintaimu. Dan cukupkanlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya engkau akan dicintai oleh manusia.” Al wahn dalam istilah sekarang ini, kita bisa menyebutnya penyakit materialisme. Jika jiwa seorang insan sudah tertimpa penyakit materialisme, apalagi jika secara materi ditopang dengan kekayaan dan kekuatan militer, maka dampak yang paling berbahaya adalah kekuatan harta dan kekuatan militer ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk membumihanguskan orang-orang yang zuhud. Orang yang tertimpa penyakit materialisme atau al wahn cenderung merasa cemas dan khawatir. Mereka khawatir jika keberadaan orang-orang zuhud di tengah kehidupan mereka akan mengancam eksistensi mereka.

Sebuah sejarah panjang yang telah menimpa kehidupan anak manusia, ada qabil dan habil bis menjadi contoh. Qabil adalah orang yang membunuh Habil disebabkan penyakit Al wahn yang menimpa jiwa Qabil. Qabil sangat cemburu dengan pasangan yang akan menjadi pasangan Habil dalam pernikahan sehingga ia tega membunuh saudaranya.

Dibangkitkannya para nabi dan rasul di tengah-tengah kehidupan umat manusia sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai kezuhudan dan memerangi Al wahn. Kita lihat bagaimana nabiyallah Ibrahim as yang zuhud adalah orang yang tegas memperjuangkan tegaknya tauhidullah. Namun, raja Nambrud begitu khawatir jika kezuhudan yang dibawa oleh nabi Ibrahim as justru menghancurkan eksistensi kerajaannya. Dampaknya ialah Ibrahim as dimusuhi sedemikian rupa, bahkan nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup. Namun, atas pertolongan Allah swt, api yang membakarnya dijadikan dingin dan sebagai penyelamat bagi Ibrahim. Zuhud tidak identik dengan kemiskinan. Zuhud adalah identik dengan kekuatan di mana mereka menjadikan dunia sebagai ladang amalan sementara orang yang wahn menjadikan dunia sebagai tujuan amalan.

Saya Sukeri Abdillah berzakat di Dompet Dhuafa.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 24/7/2012 | 06 Ramadhan 1433 H

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Share

Recent Posts

May 2013
M T W T F S S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  


http://www.baitulquran.or.id
QR Code Business Card