Rumah Yatim

Artikel Islam: Hukuman Untuk Pezina


Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi

Tidak dapat dipungkiri, meninggalkan syari’at islam akan menimbulkan akibat buruk di dunia dan akhirat. Kaum muslimin jauh dari ajaran agama mereka, menyebabkan mereka kehilangan kejayaan dan kemuliaan. Diantara ajaran islam yang ditinggalkan dan dilupakan oleh kaum muslimin adalah hukuman bagi pezina (Hadduz-Zinâ). Sebuah ketetapan yang sangat efektif menghilangkan atau mengurangi masalah perzinahan. Ketika hukuman ini tidak dilaksanakan, maka tentu akan menimbulkan dampak atau implikasi buruk bagi pribadi dan masyarakat.

Realita dewasa ini mestinya sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita untuk memahami dampak buruk ini.

Melihat realita ini, maka sangat perlu ada yang mengingatkan kaum muslimin terhadap hukuman ini. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kesadaran dan menguatkan keyakinan mereka akan kemuliaan dan keindahan syari’at islam.

DEFINISI ZINA.
Istilah zina sudah masuk dalam bahasa Indonesia, namun untuk memahami hukum syari’at tentang masalah ini kita perlu mengembalikannya ke pengertian menurut bahasa Arab dan syari’at supaya pas dan benar.

Dalam bahasa arab, zina diambil dari kata : زَنَى يَزْنِي زِنىً ، وزِنَاءً yang artinya berbuat fajir (nista).[1]

Sedangkan dalam istilah syari’at zina adalah melakukan hubungan seksual (jima’) di kemaluan tanpa pernikahan yang sah, kepemilikan budak dan tidak juga karena syubhat.[2]

Ibnu Rusyd rahimahullah menyatakan: Zina adalah semua hubungan seksual (jima’) diluar pernikahan yang sah dan tidak pada nikah syubhat dan kepemilikan budak. (Definisi ini) secara umum sudah disepakati para ulama islam, walaupun mereka masih berselisih tentang syubhat yang dapat menggagalkan hukuman atau tidak ?[3]

HUKUM ZINA
Perbuatan zina diharamkan dalam syari’at islam, termasuk dosa besar, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’alal : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. [al-Isrâ/17:32]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”. [al-Furqân/25: 68-69]

Dalam hadits, Nabi juga mengharamkan zina seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟، قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ للَِّهِ نِداً وَهُوَ خَلَقَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ

“Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Dosa apakah yang paling besar ? Beliau menjawab : Engkau menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah , padahal Allah Azza wa Jalla telah menciptakanmu. Aku bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab: Membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi : Kemudian apa ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab lagi: Kamu berzina dengan istri tetanggamu”.[4,5]

Sejak dahulu hingga sekarang, kaum muslimin sepakat bahwa perbuatan zina itu haran. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullaht berkata : Saya tidak tahu ada dosa yang lebih besar dari zina (selain) pembunuhan.[6]

HUKUMAN PEZINA.
Pelaku zina ada yang berstatus telah menikah (al-Muhshân) dan ada pula yang belum menikah (al-Bikr). Keduanya memiliki hukuman berbeda.

Hukuman pezina diawal Islam berupa kurungan bagi yang telah menikah dan ucapan kasar dan penghinaan kepada pezina yang belum menikah (al-Bikr). Allah Azza wa Jalla berfirman : ” Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. [an-Nisâ`/ 4:15-16]

Kemudian sanksi itu diganti dengan rajam (dilempar batu) bagi yang telah menikah (al-Muhshân) dan dicambuk seratus kali bagi yang belum menikah (al-Bikr) dan ditambah pengasingan setahun.

a. Pezina al-Muhshân
Pezina yang pernah menikah (al-Muhshân) dihukum rajam (dilempar dengan batu) sampai mati. Hukuman ini berdasarkan al-Qur`an, hadits mutawatir dan ijma’ kaum muslimin[7]. Ayat yang menjelaskan tentang hukuman rajam dalam al-Qur`an meski telah dihapus lafadznya namun hukumnya masih tetap diberlakukan. Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anh menjelaskan dalam khuthbahnya :

إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ عَلَى نَبِيِّهِ الْقُرْآنَ وَكَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ فَقَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا وَرَجَمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ وَ أَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُوْلُوْا : لاَ نَجِدُ الرَّجْمَ فِيْ كِتَابِ الله فَيَضِلُّوْا بِتَرْكِ فَرِيْضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ وَ ِإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ ثَابِتٌ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَلَى مَنْ زَنَا إِذَا أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَل أَوْ الإِعْتِرَاف.

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan al-Qur`an kepada NabiNya dan diantara yang diturunkan kepada beliau adalah ayat Rajam. Kami telah membaca, memahami dan mengetahui ayat itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan hukuman rajam dan kamipun telah melaksanakannya setelah beliau. Aku khawatir apabila zaman telah berlalu lama, akan ada orang-orang yang mengatakan: “Kami tidak mendapatkan hukuman rajam dalam kitab Allah!” sehingga mereka sesat lantaran meninggalkan kewajiban yang Allah Azza wa Jalla telah turunkan. Sungguh (hukuman) rajam adalah benar dan ada dalam kitab Allah untuk orang yang berzina apabila telah pernah menikah (al-Muhshân), bila telah terbukti dengan pesaksian atau kehamilan atau pengakuan sendiri”. [8]

Ini adalah persaksian khalifah Umar bin al-Khatthâb Radhiyallahu ‘anhu diatas mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri para sahabat sementara itu tidak ada seorangpun yang mengingkarinya [9]. Sedangkan lafadz ayat rajam tersebut diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Mâjah berbuny :

وَالشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَهْ نَكَلاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Syaikh lelaki dan perempuan apabila keduanya berzina maka rajamlah keduanya sebagai balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana [10].

Sedangkan dasar hukuman rajam yang berasal dari sunnah, maka ada riwayat mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik perkataan maupun perbuatan yang menerangkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam pezina yang al-Muhshân (ats-Tsaib al-Zâni)[11]

Ibnu al-Mundzir rahimahullah menyatakan: Para ulama telah berijma’ (sepakat) bahwa orang yang dihukum rajam, terus menerus dilempari batu sampai mati.[12]

Ibnu Qudâmah rahimahullah menyatakan: Kewajiban merajam pezina al-muhshân baik lelaki atau perempuan adalah pendapat seluruh para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama-ulama setelah mereka diseluruh negeri islam dan kami tidak mengetahui ada khilaf (perbedaan pendapat diantara para ulama) kecuali kaum Khawarij [13].

Meski demikian, hukuman rajam ini masih saja diingkari oleh orang-orang Khawarij dan sebagian cendikiawan modern padahal mereka tidak memiliki hujjah dan hanya mengikuti hawa nafsu serta nekat menyelisihi dalil-dalil syar’i dan ijma’ kaum muslimin. Wallahul musta’an.

Hukuman rajam khusus diperuntukkan bagi pezina al-muhshân (yang sudah menikah dengan sah-red) karena ia telah menikah dan tahu cara menjaga kehormatannya dari kemaluan yang haram dan dia tidak butuh dengan kemaluan yang diharamkan itu. Juga ia sendiri dapat melindungi dirinya dari ancaman hukuman zina. Dengan demikian, udzurnya (alasan yang sesuai syara’) terbantahkan dari semua sisi . dan dia telah mendapatkan kenikmatan sempurna. Orang yang telah mendapatkan kenikmatan sempuna (lalu masih berbuat kriminal) maka kejahatannya (jinayahnya) lebih keji, sehingga ia berhak mendapatkan tambahan siksaan[15].

Syarat al-Muhshân.
Rajam tidak diwajibkan kecuali atas orang yang dihukumi al-Muhshân. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang dihukumi sebagai al-Muhshaan apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Pernah melakukan jima’ (hubungan seksual) langsung di kemaluan. Dengan demikian, orang yang telah melakukan aqad pernikahan namun belum melakukan jima’ , belum dianggap sebagai al-Muhshân.
2. Hubungan seksual (jima’) tersebut dilakukan berdasarkan pernikahan sah atau kepemilikan budak bukan hubungan diluar nikah
3. Pernikahannya tersebut adalah pernikahan yang sah.
4. Pelaku zina adalah orang yang baligh dan berakal.
5. Pelaku zina merdeka bukan budak belian.

Dengan demikian seorang dikatakan al-Muhshân, apabila kriteria diatas sudah terpenuhi.[16]

b. Pezina Yang Tidak al-Muhshân
Pelaku perbuatan zina yang belum memenuhi kriteria al-muhshân, maka hukumannya adalah dicambuk sebanyak seratus kali. Ini adalah kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuklah) tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk)”. [An-Nûr/24:2]

Al-Wazîr rahimahullah menyatakan : “Para ulama sepakat bahwa pasangan yang belum al-muhshân dan merdeka (bukan budak-red), apabila mereka berzina maka keduanya dicambuk (dera), masing-masing seratus kali.

Hukuman mati (dengan dirajam-red) diringankan buat mereka menjadi hukuman cambuk karena ada udzur (alasan syar’i-red) sehingga darahnya masih dijaga. Mereka dibuat jera dengan disakiti seluruh tubuhnya dengan cambukan. Kemudian ditambah dengan diasingkan selama setahun menurut pendapat yang rajah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خُذُوْا عَنِّيْ ، خُذُوْا عَنِّيْ ، قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً ، الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جِلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيْبُ عَامٍ .

“Ambillah dariku! ambillah dariku! Sungguh Allah telah menjadikan bagi mereka jalan, yang belum al-muhshaan dikenakan seratus dera dan diasingkan setahun.” [HR Muslim].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan : “Apabila tidak muhshân , maka dicambuk seratus kali, berdasarkan al-Qur`an dan diasingkan setahun dengan dasar sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [17].

KEKHUSUSAN HUKUMAN PEZINA.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tiga karakteristik khusus bagi hukuman zina :
1. Hukuman yang keras, yaitu rajam untuk al-Muhshân dan itu adalah hukuman mati yang paling mengenaskan dan sakitnya menyeluruh keseluruh badan. Juga cambukan bagi yang belum al-muhshân merupakan siksaan terhadap seluruh badan ditambah dengan pengasingan yang merupakan siksaan batin.
2. Manusia dilarang merasa tidak tega dan kasihan terhadap pezina
3. Allah memerintahkan pelaksanaan hukuman ini dihadiri sekelompok kaum mukminin. Ini demi kemaslahatan hukuman dan lebih membuat jera.
Hal ini disampaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman” [an-Nûr/24:2]

SYARAT PENERAPAN HUKUMAN ZINA.
Dalam penerapan hukuman zina diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Pelakunya adalah seorang mukallaf yaitu sudah baligh dan berakal (tidak gila).
2. Pelakunya berbuat tanpa ada paksaan.
3. Pelakunya mengetahui bahwa zina itu haram, walaupun belum tahu hukumannya.[18]
4. Jima’ (hubungan seksual) terjadi pada kemaluan.
5. Tidak adanya syubhat. Hukuman zina tidak wajib dilakukan apabila masih ada syubhat seperti menzinahi wanita yang ia sangka istrinya atau melakukan hubungan seksual karena pernikahan batil yang dianggap sah atau diperkosa dan sebagainya.
Ibnu al-Mundzir rahimahullah menyatakan : “Semua para ulama yang saya hafal ilmu dari mereka telah berijma’ (bersepakat) bahwa had (hukuman) dihilangkan dengan sebab adanya syubhat.” [19]
6. Zina itu benar-benar terbukti dia lakukan. Pembuktian ini dengan dua perkara yang sudah disepakati para ulama yaitu:

6.1. Pengakuan dari pelaku zina yang mukallaf dengan jelas dan tidak mencabut pengakuannya sampai hukuman tersebut akan dilaksanakan.
6.2. Persaksian empat saksi yang melihat langsung kejadian, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu.” [an-Nûr/24:13]

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang-orang saksi.….” [An-Nûr/24:4]

Persaksian yang diberikan oleh para saksi ini akan diakui keabsahannya, apabila telah terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Mereka bersaksi pada satu majlis
b. Mereka bersaksi untuk satu kejadian perzinahan saja
c. Menceritakan perzinahan itu dengan jelas dan tegas yang dapat menghilangkan kemungkinan lain atau menimbulkan penafsiran lain seperti hanya melakukan hal-hal diluar jima’.
d. Para saksi adalah lelaki yang adil
e. Tidak ada yang menghalangi penglihatan mereka seperti buta atau lainnya.

Apabila syarat-syarat ini tidak sempurna, maka para saksi dihukum dengan hukuman penuduh zina. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang-orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima keksaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik” [an-Nûr/24:4]

Penetapan terjadinya perbuatan zina dan pemutusan saksi dengan berdasarkan persaksian dan pengakuan si pelaku yang disebutkan diatas, telah disepakati oleh para ulama. Dan para ulama masih berselisih pendapat tentang hamil diluar nikah. Bisakah hal ini dijadikan sebagai dasar untuk menetapkan bahwa telah terjadi perbuatan zina atau orang ini telah melakukan perbuatan zina sehingga berhak mendapatkan sanksi ?

Para ulama berselisih menjadi dua pendapat :
Pertama : Pendapat jumhur yaitu madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah (hanabilah) menyatakan bahwa hukuman pezina tidak ditegakkan atau dilaksanakan kecuali dengan pengakuan dan persaksian saja.

Kedua : Pendapat madzhab Malikiyah menyatakan hukuman pezina dapat ditegakkan dengan indikasi kehamilan.

Yang rajih dari dua pendapat diatas adalah pendapat madzhab Malikiyah sebagaimana dirajihkan syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau rahimahulllah menyatakan bahwa seorang wanita dihukum dengan hukuman zina apabila ketahuan hamil dalam keadaan tidak memiliki suami, tidak memiliki tuan (jika ia seorang budak-red) serta tidak mengklain adanya syubhat dalam kehamilannya.[20]

Beliau rahimahullah pun menyatakan : “Inilah yang diriwayatkan dari para khulafâ’ rasyidin dan ia lebih pas dengan pokok kaedah syari’at.[21]

Dalil beliau rahimahullah dan juga madzhab Malikiyah adalah pernyataan Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anhu dalam khutbahnya :

وَ ِإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ ثَابِتٌ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَلَى مَنْ زَنَا إِذَا أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَل أَوْ الإِعْتِرَاف.

“Sungguh rajam adalah benar dan ada dalam kitab Allah atas orang yang berzina apabila telah pernah menikah (al-Muhshaan), bila tegak padanya persaksian atau kehamilan atau pengakuan sendiri” [22].

Jelaslah dari pernyataan Umar bin al-Khatthab Radhiyallahu ‘anhu diatas bahwa beliau menjadikan kehamilan sebagai indikasi perzinahan dan tidak ada seorang sahabatpun waktu itu yang mengingkarinya.

al-Hâfidz Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari riwayat Umar Radhiyallahu ‘anhu diatas dengan menyatakan: (Dalam pernyataan Umar diatas) ada pernyataan bahwa wanita apabila didapati dalam keadaan hamil tanpa suami dan juga tidak memiliki tuan, maka wajib ditegakkan padanya hukuman zina kecuali bila dipastikan adanya keterangan lain tentang kehamilannya atau akibat diperkosa.[23]

Demikianlah, mudah-mudahan bermanfaat.

Referensi:
1. Hâsyiyah ar-Raudh al-murbi’ syarh Zad al-Mustaqni’, Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qâsim, cetakan ke-6 tahun 1417 H tanpa penerbit.
2. al-Mulakhash al-Fiqhiy, Syaikh Shalih bin Fauzân ali Fauzân, cetakan pertama tahun 1422 H, Ri’asah Idaarah al-Buhuts al-‘Ilmiyah wa al-Ifta’.
3. Al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah, Tahqiq Abdullah bin Abdulmuhsin at-Turki, cetakan kedua tahun 1413H, penerbit Hajar
4. Tas-hîlul-Ilmâm bi Fiqhi Lil Ahâdits Min Bulûgh al-Marâm, Syaikh Shalih bin Fauzân ali Fauzân, cetakan pertama tahun 1427 H. tanpa penerbit.
5. Syarhu al-Mumti’ ‘Ala Zâd al-Mustaqni’ , Syaikh Muhamad bin shâlih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1427 H, Dar ibnu al-Jauzi.
6. Taisîr al-Fiqhi al-Jâmi’ Li Ikhtiyârât al-Fiqhiyah Lisyaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, DR. Ahmad Muwâfi cetakan pertama tahun 1416 H, Dar Ibnu al-Jauzi.
7. Fathul Bâri dll.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes
[1]. al Muhîth
[2]. Hâsyiayah ar-Raudh al-murbi’ 7/312
[3]. Bidâyah al-Mujtahid 2/529 dan lihat ar-Raudh al-Murbi’ syarh Zâd al-Mustaqni’ 7/312 dan al-Mulakhash al-Fiqh hal. 528
[4]. HR al-Bukhâri dalam kitab al-Adab, Bab Qatlul-Walad Khasy-yata ayya`kula ma’ahu 10/33 dan Muslim dalam kitab al-Iimân 2/80.
[5]. Lihat lebih lanjut kitab al-Mughni 12/308
[6]. ar-Raudh al-Murbi’ 7/312
[7]. Lihat Tashîlul-Ilmâm Bi Fiqhi Lil Ahâdîts Min Bulûgh al-Marâm, Shalih al-fauzân 5/230
[8]. HR al-Bukhâri dalam kitab al-Hudûd, Bab al-I’tirâf biz-Zinâ 1829 dan Muslim dalam kitab al-Hudûd no. 1691.
[9]. Dari pernyataan Syeikh Ibnu Utsaimin dalam Syarhu al-Mumti’ 14/229.
[10]. HR Ibnu Mâjah kitab al-Hudûd Bab ar-Rajmu dan dishahihkan al-Albâni dalam Shahîh Sunan Ibnu Mâjah 2/81
[11]. Tas-hîlul-Ilmâm bi Fiqhi Lil Ahâdîts Min Bulûgh al-Marâm, Syaikh Shâlih al-Fauzân 5/230.
[12]. Dinukil dari al-Mughni 12/310.
[13]. Al-Mughni 12/309..
[14]. Cuplikan dari ar-Raudh al-Murbi’ 7/312.
[15]. Cuplikan dari al-Mulakhas al-Fiqhi 2/529.
[16]. Lihat penjelasan para ulama tentang hal ini dalam al-Mughni 12/314-318.
[17]. Majmû’ Fatâwâ 28/333 dinukil dari Taisîr al-Fiqhi al-Jâmi’ Li Ikhtiyârât al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islâm Ibnu Taimiyah, DR. Ahmad Muwâfi 3/1445.
[18]. Syarhu al-Mumti’ 14/207-210
[19]. al-Mulakhas al-Fiqhiy, 530-531
[20]. Lihat Majmu’ Fatawa 28/334
[21]. ibid
[22]. HR al-Bukhaari dalam kitab al-Hudud, Bab al-I’tiraf biz-Zinaa 1829 dan Muslim dalam kitab al-Hudud no. 1691.
[23]. Fathu al-Baari 12/160

Sumber: http://www.almanhaj.or.id

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Related Posts

Category: Artikel, Artikel Islam

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Artikel

  • Artikel Islam: Hukum Khitan

    Oleh Ustadz Armen Halim Naro DEFINISI KHITAN Al khitan diambil dari bahasa Arab kha-ta-na, yaitu memotong. Sebagian ahli bahasa mengkhususkan lafadz khitan untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut dengan khifadh. Adapun dalam istilah syariat, dimaksudkan dengan memotong kulit yang menutupi kepala zakar bagi laki-laki, atau memotong daging yang menonjol di atas vagina, disebut juga
  • Syariah Islam: Target? Tidak Hanya Itu

    dakwatuna.com - Bismillahirrohmanirrohim… Kesuksesan apapun bentuknya tidak akan diraih kecuali dengan kerja keras, cucuran air mata, peluh keringat, dan senantiasa menyapih diri dari hal-hal yang mengenakkan, serta tak ketinggalan senantiasa melatih diri untuk melakukan hal-hal yang begitu berat tak biasa kita lakukan. Awalnya memang begitu berat, bahkan sangat berat. Namun, harapan yang begitu membuncah mampu
  • Artikel Islam: Tentang Arwah

    Abdullah Pertanyaan: Apakah orang yang mati penasaran (bunuh diri), arwahnya dapat kembali ke dunia dan menampakkan wujud nya kepada manusia? Jawaban: Assalamualaikum Wr. Wb. Arwah adalah bentuk jama‘ dari ruh. Apabila ruh seseorang dicabut meninggalkan jasadnya, maka ruh itu dipanggil mengahadap Allah SWT untuk mempertanggung-jawabkan amalnya selama di dunia. Dalam banyak riwayat dikabarkan bahwa ketika
  • Artikel Islam: PKPU Adukan Tempo ke Dewan Pers

    Logo PKPU dakwatuna.com – Menindaklanjuti langkah-langkah yang telah dilakukan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU sebelumnya, terkait pemberitaan tidak benar yang telah dilansir Majalah Tempo edisi 14-20 Maret 2011, Koran Tempo 14 Maret 2011, dan situs Tempo Interaktif 14 Maret 2011, bertajuk ‘Kisruh Impor Daging Sapi’. Direncanakan, hari Rabu (16/3/2011), Manajemen PKPU yang dipimpin langsung Ketua Yayasan
  • Artikel Islam: Kewajiban Ittiba (Mengikuti) Jejak Salafush Shalih Dan Menetapkan Manhajnya

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Mengikuti manhaj/jalan Salafush Shalih (yaitu para Shahabat) adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut: A. DALIL-DALIL DARI AL-QUR’AN Allah berfirman: “Artinya : Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika
  • Artikel Islam: Hibah (Pemberian/Hadiah)

    Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi Definisi Hibah Hibah yaitu seseorang memberikan kepemilikan hartanya kepada orang lain di saat hidup tanpa imbalan. Anjurannya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ. “Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang wanita
  • Artikel Islam: 6d. Perang Shiffin

    Oleh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil 6. MUNCULNYA BERBAGAI MACAM FITNAH D. PERANG SHIFFIN Di antara fitnah yang terjadi antara para Sahabat Radhiyallahu anhum selain perang Jamal adalah apa yang diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ، يَكُـونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ، دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ. “Tidak
  • Artikel Islam: Wanita-Wanita Pengukir Sejarah (bagian ke-1): Khadijah RA.

    lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.  Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita
  • Artikel Islam: Nikmat Sehat Dan Waktu Luang

    Oleh Ustadz Muslim Al Atsari Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya. Ada sebuah surat di dalam Al Qur’an yang disebut oleh para ulama sebagai surat An Ni’am (surat tentang kenikmatan-kenikmatan Allah), yaitu surat An Nahl. Allah memulai dengan menyebutkan kenikmatan terbesar, yaitu kenikmatan
  • Artikel Islam: Manusia Melihat Jin

    Pertanyaan Saya seorang pelanggan As Sunnah sudah dua tahun. Ada hal yang ingin saya tanyakan. Seorang tetangga saya perempuan, dia mempunyai kemampuan melihat dan berdialog dengan jin, bahkan bisa mengusir jin yang masuk ke tubuh seseorang. Secara syariat apakah dibenarkan? Karena pada zaman Rasulullah tidak ada contoh demikian? Perempuan tersebut tidak berjilbab. Tri W, Tarakan,
  • Artikel Islam: Bahaya Riya

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى
  • Dakwah Islam: Pastor dan Rabbi Pun Mengucapkan Selamat

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 15/12/2008 | 16 Dhul-Hijjah 1429 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Islam: Bangsa Arab Di Dunia Kerdil dan Raksasa Sumber: http://www.dakwatuna.com | 1/3/2010 | 16 Rabbi al-Awwal 1431 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comSyariah Islam: Kuatkan Barisan, Raih Kemenangan Sumber: http://www.dakwatuna.com | 13/3/2009 | 16 Rabbi al-Awwal 1430 H RUMAH YATIM -
  • Artikel Islam: Para Nabi Dan Salafush Shalih Juga Bekerja

    Oleh Ustadz Abu Humaid ‘Arif Syarifuddin Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia ke dunia ini, Dia juga memberikan ilham melalui fitrah dan akal mereka untuk mencari sebab-sebab memperoleh rezeki yang halal dan baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan berbagai sarana guna mempertahankan kehidupan manusia di dunia ini, yaitu bekerja mencari beragam penghidupan yang
  • Dakwah Muslim: Rasa Wanita Anugerah Pencipta

    dakwatuna.com Jika anugerah itu membahagiakan Maka cinta yang merupakan anugerah dariNYA Seharusnya juga membahagiakan Namun adakalanya Ada yang merasa tak bahagia dengan cinta Atau janganlah terlalu dini menyebutnya cinta Mari kita sebut saja sebuah rasa Rasa yang berbeda Yang menggetarkan jiwa Aha Mungkin memang belum saatnya Rasa itu ada Hingga diri merasa
  • Artikel Islam: Habituasi Kebaikan dan Keburukan

    . (tutinonka.wordpress.com) dakwatuna.com - Pernahkah mengelus-elus kepala kijang dari balik pagar di kawasan Istana Bogor? Ketika kita memberikan makanan kijang tersebut mendekat dan jika kita sentuh kepalanya sontak mungkin ia akan kaget dan bereaksi spontan. Itu wajar. Coba ulangi lagi, sentuh atau elus-elus dia di tempat yang sama, ia tampak lebih kalem, lebih jinak, lebih
  • Artikel Islam: Meniru-Niru Tindak-Tanduk Dan Suara-Suara Binatang

    Oleh Ustadz Muhammad Ashim bin Musthofa Tulisan ini membicarakan tentang hukum meniru-niru binatang. Baik dalam aspek tingkah-laku atau suara-suaranya. Tindakan ini sering dilakukan oleh para pendidik di level taman kanak-kanak, atau para orang tua dalam upaya mendidik anak-anak mereka yang masih kecil, atau para pendongeng. Baik dalam rangka mengenalkan alam semesta atau sekedar menghibur anak-anak.
  • Artikel Islam: Kriteria Bid’ah

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa pengertian bid’ah dan apa kriterianya? Adakah bid ‘ah hasanah? Lalu apa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya ; Barangsiapa yang menempuh kebiasaan yang baik di dalam Islam … “ Semoga Allah mebalas Syaikh dengan kebaikan. Jawaban Pengertian bid’ah
  • Dakwah Muslim: Kacamata Positif Seorang Dai

    fy;”>Salah satu contoh aplikasi pandangan positif dan optimistik Islam tentang manusia adalah penyebutan hati (qalbu) dengan istilah nurani (nuuraaniyyun). Kata ini berasal dari kata ‘nuur’ yang artinya cahaya. Jadi, nurani berarti memiliki sifat cahaya. Dengan demikian ketika kita menyebut ‘hati nurani’ sesungguhnya terkandung maksud bahwa hati kita itu memiliki kemampuan untuk ‘mencahayai’ atau ‘menerangi’ jalan
  • Artikel Islam: Mengompromikan Antara Dua Ayat Yang Berlawanan ?

    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana kita menjamak (mengkompromikan) dua ayat ini : “Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang menyekutukanNya (syirik), tapi Allah akan mengampuni dosa lain selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki”. Dengan ayat.
  • Dakwah Islam: Turki: Israel Kembali Lakukan Aktivitas Ilegal

    Proyek pembangunan pemukiman Israel (AFP/OZ) dakwatuna.com – Ankara. Turki mengecam keras pembangunan dan pelegalan pos pemukiman Israel di wilayah Tepi Barat. Turki bahkan menyebut aktivitas Israel ilegal dan bertentangan dengan hukum internasional. “Israel melanjutkan pembangunan pemukiman yang ilegal dengan tidak memperdulikan reaksi komunitas internasional. Tindakan ini cukup mengancam kelanjutan solusi dua negara untuk konflik Israel
  • Artikel Muslim: Rambu Memilih Pejabat

    كَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمء بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Sumber: http://www.dakwatuna.com | 17/6/2009 | 23 Jumada al-Thanni 1430 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsSyariah Muslim: Dzikir dan Doa Sebelum Tidur Sumber: http://www.dakwatuna.com |
  • Artikel Islam: Dengan Apa Dakwah Dimulai

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Jika seseorang hendak mendakwahi orang lain, bagaimana ia memulai dan apa yang dibicarakannya ? Jawaban. Tampaknya, bahwa yang dimaksud oleh penanya adalah mengajak orang lain ke jalan Allah. Berdakwah harus dengan hikmah, nasehat yang baik, sikap lembut, tidak kasar dan tidak
  • Artikel Islam: Hal-Hal Yang Membatalkan Dan Merusak Puasa : Hukum Orang Yang Membatalkan Puasa Dengan Sengaja

    Oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar Puasa berarti menahan diri dengan disertai niat dari hal-hal yang dapat membatalkannya sejak terbit fajar (kedua-ed) sampai terbenamnya matahari. Hal-hal yang membatalkan puasa itu adalah: 1. Hubungan badan (jima’). 2. Keluarnya mani. 3. Makan dan minum. 4. Hal-hal yang semakna dengan makan dan minum. 5. Hijamah (bekam).
  • Dakwah Islam: tabir pembatas pada saat pelatihan atau dauroh, bgaimana?

    Assalamualaikum usatad.. sy sering mengadakan kegiatan berupa pelatihan, training atau dauroh2.. sy memiliki konsep bahwa kegiatan pelatihan yang efektif itu salah satunya apabila ada komunikasi yang baik berbagai arah dari semua peserta pelatihan,  sehingga terkadang saya tidak menggunakan pembatas ikhwan/akhwat dalam berbagai pelatihan tersebut. yang ingin saya tanyakan bolehkah saya melakukan itu?bagaimana hukumnya?   mohon
  • Artikel Islam: (Bolehkah) Beralasan Dengan Takdir Atas Perbuatan Maksiat Atau Dari Meninggalkan Kewajiban

    Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Keimanan kepada qadar tidaklah memperkenankan pelaku kemaksiatan untuk beralasan dengannya atas kewajiban yang ditinggalkannya atau kemaksiatan yang dikerjakannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh seseorang berdalih dengan takdir atas dosa (yang dilakukannya) berdasarkan kesepakatan (ulama) kaum muslimin, seluruh pemeluk agama, dan semua orang yang berakal. Seandainya hal
  • Artikel Islam: Muslim Kanada Sebar Al-Qur’an untuk Menjawab Hari Membakar Al-Qur’an

    dakwatuna.com – Jeddah. Seorang Muslim di Kanada, Suhail Kapoor, akan membagi-bagikan Alquran secara gratis untuk menyebarkan pesan kedamaian Islam kepada masyarakat di Kanada dan Amerika Serikat. Puluhan ribu Alquran itu akan dibagi-bagikan berkat dukungan dermawan Muslim di sana. Kapoor yang merupakan anggota dari Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) melakukan itu untuk menjawab ‘Gerakan Hari Membakar
  • Artikel Islam: Kaidah-Kaidah Tibbun Nabawi

    Oleh Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr  Allah menciptakan makhlukNya agar beribadah serta tunduk kepadaNya. Allah menciptakannya terdiri dari ruh dan jasad. Allah menurunkan untuk mereka hukum-hukum syar’i, dan beban-beban ibadah yang bisa memelihara badan dan ruh mereka. Allah juga telah mengeluarkan untuk mereka makanan-makanan yang baik, agar kesehatan badan mereka tetap terjaga. Allah
  • Artikel Islam: Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri : Isteri Harus Banyak Bersyukur Dan Tidak Banyak Menuntut

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas 2. ISTERI HARUS BANYAK BERSYUKUR DAN TIDAK BANYAK MENUNTUT Bersyukur adalah ciri dari hamba-hamba Allah yang mulia. Dan orang-orang yang bersyukur sangat sedikit, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “ … Sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.” Setiap mukmin dan mukminah diperintahkan untuk bersyukur karena
  • Artikel Islam: Dan Sebahagian Besar Manusia Tidak Akan Beriman, Walaupun Kamu Sangat Menginginkannya

    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Manusia mendapatkan hidayah merupakan hasil dari tersebarnya ilmu syar’i di tengah-tengah manusia. Namun realita menunjukkan, bahwa kebatilan lebih banyak tersebar melalui media massa dan semua sarana informasi serta kurikulum-kurikulum pendidikan. Apa peran para ulama dan dai sehubungan
  • Artikel Islam: Yang Dimaksud Kaum Kerabat

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh Saya ingin bertanya tentang siapa yang dmaksud kaum kerabat dibeberapa surat dalam Al Quran, diantaranya ayat dibawah ini. mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan, jawablah "apa aja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang orang yang sedang dalam perjalanan". Apa saja
  • Dakwah Islam: Keprihatinan Seorang Nabi

    (aishagrace.wordpress.com) dakwatuna.com - Di suatu waktu, terdengarlah “desah” nabi Zakariya – ‘alaihis-salam -:   “Ya Allah Rabb-ku, sesungguhnya tulang belulangku sudah rapuh, kepalaku sudah menyala putih karena uban dan istriku mandul. Namun, ada satu hal yang membuat diriku khawatir, takut, cemas dan bersedih, yaitu, belum jelasnya seorang penggantiku, pelanjutku dan pewarisku, dan aku tidak pernah berputus
  • Dakwah Muslim: Tes DNA: Hitler Keturunan Yahudi

    dakwatuna.com – Jakarta. Tes DNA mengungkapkan bahwa pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler kemungkinan punya darah Yahudi dan kulit hitam. Dua ras tersebut adalah justru yang dia ingin musnahkan saat Perang Dunia II. Majalah Knack terbitan Brussels mengklaim bahwa DNA yang diperoleh dari kerabat Hitler di Amerika Serikat telah menuntun pada penemuan tersebut. Wartawan Jean-Paul Mulders
  • Artikel Syariah: Melawan Kejahatan Dengan Kejahatan

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 27/4/2010 | 13 Jumada al-Ula 1431 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Syariah: Islam Itu Indah Sumber: http://www.dakwatuna.com | 24/10/2007 | 13 Shawwal 1428 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comArtikel Muslim: Gempa Mengguncang Tasikmalaya, PKPU Turunkan Tim Rescue Sumber: http://www.dakwatuna.com | 3/9/2009 | 13 Ramadhan 1430 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comArtikel Syariah:
  • Artikel Islam: Ibadah Dan Amalan Yang Bermanfaat Bagi Mayit

    Oleh Mahmud Ghorib Asy-Syarbini Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, salawat serta salam mudah-mudahan selalu tercurahkan kepada Rasulullah n, keluarganya dan sahabatnya serta orang-orang yang diberi petunjuk dengan petunjuk-Nya. Sesungguhnya manusia itu berdasarkan fitrahnya, telah dijadikan untuk memberikan manfaat kepada orang-orang yang telah mati, khususnya setelah mereka meninggal dunia secara langsung, dengan prasangkaan dan
  • Artikel Islam: T a q w a

    Oleh Syaikh Dr Fadhl Ilahi Termasuk sebab turunnya rizki adalah taqwa. Saya akan membicarakan masalah ini –dengan memohon taufiq dari Allah- dalam dua bahasan. Pertama : Makna Taqwa Kedua : Dalil Syar’i Bahwa Taqwa Termasuk Kunci Rizki Pertama : Makna Taqwa Para ulama rahimahullah telah mejelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib
  • Artikel Islam: Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah Dalam Masalah Dien dan Iman

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Prinsip Ahlus Sunnah tentang iman adalah sebagai berikut: 1. Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkannya dengan lisan dan mengamalkannya dengan anggota badan. 2. Amal perbuatan – dengan seluruh jenisnya yang meliputi amalan hati dan anggota badanadalah bagian dari hakekat iman. Ahlus Sunnah tidak mengecualikan amalan sekecil apa
  • Artikel Islam: Khutbah Idul Adha 1431 H: Tauhid dan Kepedulian

    irm(‘http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/08/muslim-spanyol.jpg \n\nThis file was not retrieved by Teleport VLX, because it did not meet the project\’s file type specifications. \n\nDo you want to open it from the server?’))window.location=’http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/08/muslim-spanyol.jpg’” tppabs=”http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/08/muslim-spanyol.jpg” rel=”shadowbox;player=img;” title=”Muslim Spanyol sedang shalat”> Muslim Spanyol sedang shalat اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
  • Dakwah Islam: Pelukan Alam

    (blogspot/lovelytobeamuslimah) dakwatuna.com Ku lirik biru langit yang menjadi nuansa Arakan awan pengiring langkah Mentari yang menyapaku dengan teriknya Warna hijau yang memelukku Warna coklat tempat ku bertumpu Peluh ini menjadi saksi Di sepanjang tapak-tapakku berjejal Mendaki medan terjal berkerikil Bernaung ketakutan yang meraja Merasuki tiap sendi nadiku Aku adalah seorang penakut Yang menggigil kala dingin
  • Artikel Islam: Keindahan Islam Yang Berupa Perintah-Perintah Dan Larangan-Larangan

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas A. Keindahan Islam yang Berupa Perintah-Perintah: 1. Islam memerintahkan kita agar bertauhid secara murni (beribadah hanya kepada Allah Azza wa jalla saja, tidak kepada yang selain-Nya), ber‘aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman para Shahabat karena yang demikian itu dapat membawa kepada ketentraman hati. ‘Aqidah yang diajarkan Islam dapat
  • Syariah Muslim: Jihad Tidak Melalui Kekerasan

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 14/8/2009 | 22 Shaban 1430 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Islam: Ba’asyir: Jihad Belum Perlu Dengan Senjata Sumber: http://www.dakwatuna.com | 14/8/2009 | 22 Shaban 1430 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comDakwah Islam: 25 September 2011 dakwatuna.comDetik lampau di hari ituGelegar iman nan suci merayap sayup kedinginanLensaMu membidik “bayi-bayi” tengah mengucap janjiTentang
April 2014
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  


http://www.baitulquran.or.id