Rumah Yatim

Artikel Islam: Menjual Tanah Waqaf

Pertanyaan.
Ada sebuah masjid di tepi jalan. Masjid itu sudah tua dan tidak cukup lagi menampung jama’ah shalat. Ada orang mewaqafkan tanah di seberang jalan. Kami perlu untuk meluaskan masjid tersebut, tetapi lokasi sudah habis. Bolehkah menjual tanah waqaf di seberang jalan itu, lalu uangnya dibelikan tanah di samping masjid untuk perluasan? Tokoh-tokoh agama di daerah kami menyatakan bahwa “tanah waqaf itu tidak boleh dijual”. Oleh karena itu, tanah waqaf di seberang jalan tersebut dibiarkan begitu saja, tidak dimanfaatkan. Hal ini sudah berlangsung lama. Kami minta penjelasan mengenai hal ini jazakumulloh khoiro.
Abdullah,
Masaran, Sragen, Jawa Tengah.

Jawaban.
Alhamdulillah, wash-shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’d,
Waqaf berasal dari kata “waqf”. Secara bahasa Arab, artinya menahan. Adapun ta’rif (definisi) waqaf secara syari’at, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi berkata: “Waqaf adalah menahan pokok/asal (harta), sehingga tidak diwariskan, tidak dijual, dan tidak dihibahkan, dan hasilnya diberikan kepada orang-orang yang diberi waqaf”. [1]

Sedangkan menurut Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, ta’rif waqaf secara syari’at adalah, pemilik harta menahan hartanya yang diambil manfaatnya, bersamaan tetapnya dzat harta itu dari usaha-usaha dengan barangnya, dan manfaatnya diberikan pada sesuatu yang termasuk jenis-jenis ketaatan untuk mencari wajah Allah. [2]

Dari keterangan di atas, kita mengetahui bahwa pada asalnya, waqaf tidak boleh dijual. Karena, jika dijual dan barang waqafnya sudah tidak ada wujudnya, maka bukan lagi waqaf (menahan pokok/asal harta). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ

Dari Ibnu Umar bahwa Umar binAl Khaththab mendapatkan tanah di kota Khaibar. Lalu dia mendatangi Nabi (untuk) meminta petunjuk kepada Beliau tentang tanah tersebut. Dia berkata,”Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya aku mendapatkan tanah di kota Khaibar. Aku tidak pernah mendapatkan harta sama sekali yang lebih berharga padaku darinya. Maka apakah yang Anda perintahkan tentang tanah itu?” Beliau bersabda,”Jika engkau mau, engkau menahan pokoknya, dan engkau bershadaqah dengan (hasil)nya.” Maka Umar(pun) bershadaqah dengan (hasil)nya, dengan syarat bahwa tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, tidak diwariskan. Umar bershadaqah dengan (hasil) tanah itu untuk orang-orang miskin, karib kerabat, budak-budak, fi sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak mengapa orang yang mengurusnya (mengelolanya) memakan darinya dengan baik, juga (tidak mengapa) dia memberi makan (darinya) dengan tidak menyimpan harta. [HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi].

Kemudian bagaimana jika tanah waqaf terbengkelai dan perlu untuk dijual dan dibelikan tanah yang lain untuk dijadikan sebagai waqaf dan dimanfaatkan? Apakah hal itu boleh? Di sini terdapat dua pendapat.

Pendapat Pertama : Tidak Boleh Dijual.
Ini disebutkan sebagai pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i. [3] Imam Malik rahimahullah berkata,”Barang waqaf tidak boleh dijual, walaupun telah roboh. Tetapnya barang-barang waqaf milik Salaf yang roboh, merupakan dalil terlarangnya hal itu (menjual barang waqf walaupun telah roboh).” [4] Tetapi, Imam Malik rahimahullah juga berpendapat, jika imam (penguasa) berpendapat (bahwa) penjualan itu lebih mashlahat, (maka) hal itu boleh dan imam menjadikannya pada yang semisalnya. [5]

Adapun Asy Syafi’iyah (orang-orang yang menyatakan sebagai pengikut Imam Asy Syafi’i) berpendapat, jika seseorang mewaqafkan masjid, lalu tempat itu roboh dan terhenti shalat di sana, (maka) barang waqf tersebut tidak dikembalikan kepada pemilik dan tidak dirobah (tidak diganti). [6]

Pendapat Kedua : Waqaf tidak boleh dijual dan tidak boleh ditukar, kecuali jika manfaat-manfaat waqaf terbengkelai, maka boleh dijual dan boleh ditukar dengan lainnya.

Demikian ini pendapat Imam Ahmad. [7]

Berkenaan dengan pendapat kedua ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, bahwa mengganti sesuatu yang dinadzarkan, dan sesuatu yang diwaqafkan dengan sesuatu yang lebih baik darinya, sebagaimana mengganti hewan qurban, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

Pertama : Mengganti karena kebutuhan. Seperti (waqaf) terbengkelai, lalu dijual, dan dengan uangnya dibelikan penggantinya. Ini semua boleh, karena (yang menjadi) pokoknya, jika sesuatu yang dimaksudkan itu tidak terjadi, maka gantinya (berlaku sebagai) menggantikannya.

Kedua : Mengganti untuk mashlahat yang lebih besar (kuat). Seperti mengganti hewan qurban yang lebih baik darinya. Atau ada sebuah masjid lalu dibangun masjid lain yang lebih mashlahat bagi penduduk suatu daerah daripada masjid pertama, dan masjid yang pertama dijual. Menurut (imam) Ahmad dan ulama lainnya, yang seperti itu dan semacamnya dibolehkan. Imam Ahmad berhujjah dengan (perbuatan) Umar yang memindahkan Masjid Kufah yang lama ke tempat yang lain. Dan lokasi masjid yang pertama menjadi pasar bagi para pedagang kurma. Maka (tindakan seperti) ini, (berarti) mengganti lokasi masjid. Lihat Majmu’ Fatawa (31/252).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata: “Bersamaan (Sesuai) dengan kebutuhan, wajib mengganti waqaf dengan yang semisalnya. Dan tanpa adanya kebutuhan, boleh (mengganti waqaf) dengan yang lebih baik darinya karena nampak mashlahatnya”. [8]

Seorang tokoh ulama Hanafiyah, yang bernama Ibnu ‘Abidin berkata: Ketahuilah, bahwa mengganti waqaf itu ada tiga bentuk.

Pertama : Pemberi waqaf mensyaratkannya (yakni boleh mengganti waqaf) pada dirinya sendiri, atau pada orang lain, atau pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Berdasarkan (pendapat) yang benar, maka mengganti waqaf pada bentuk ini dibolehkan. Ada yang mengatakan, (demikian) ini disepakati bolehnya.

Kedua : Pemberi waqaf tidak mensyaratkannya, yaitu dia tidak mensyaratkan mengganti waqaf atau dia diam. Akan tetapi waqaf itu menjadi (harta) yang tidak dimanfaatkan sama sekali, yaitu tidak menghasilkan (manfaat) sama sekali, dan tidak mencukupi biaya (pengelolaannya, jika dikelola, Red), maka menurut pendapat yang lebih benar, hal itu juga boleh (digantikan) jika diizinkan oleh hakim (syari’at) dan memandang adanya manfaat padanya.

Ketiga : Pemberi waqf tidak mensyaratkannya juga. Dan secara umum waqaf tersebut ada manfaatnya, tetapi gantinya lebih baik (dari segi) tambahannya dan manfaatnya. Menurut pendapat yang benar dan terpilih (dalam madzhab Hanafiyah, Red), demikian ini tidak dibolehkan menggantinya. [9]

Kembali kepada soal yang ditanyakan, maka permasalahan ini masuk pada point kedua, yang hukumnya boleh mengganti waqaf. Yakni boleh menjualnya dan menggantikannya dengan tanah lainnya yang dapat dimanfaatkan. Sedangkan pada masalah ketiga -yang menurut Ibnu Abidin menyatakan tidak bolehnya- maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t membolehkannya, sebagaimana telah berlalu nukilan dari perkataan beliau.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menyatakan, jika barang yang diwaqafkan berkurang atau manfaat-manfaatnya menjadi sedikit, sedangkan yang selainnya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang-orang yang menerima waqaf, maka dalam perkara ini terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad. (Yaitu), dari kalangan yang bermadzhab (Hanbali, Red) adalah terlarang (menukar, Red), dan riwayat yang lainnya membolehkan. Demikian inilah pilihan Syaikhul Islam. [10]

Begitu pula pendapat Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi, ketika menjelaskan hukum-hukum waqaf, pada point ketiga dan kempat, beliau menyatakan. Ketiga : Waqf menjadi wajib dengan semata-mata pengumumannya. Atau diberikan (kepada penerima waqaf), atau diserahkan kepada orang yang diberi waqaf. Sehingga setelah itu tidak boleh dibatalkan, tidak boleh dijual, dan tidak boleh dihibahkan. Keempat : Jika manfaat-manfaat waqaf terbengkelai karena peperangan, maka sebagian ulama membolehkan menjualnya. Uangnya dipergunakan untuk yang semisalnya. Dan jika (masih) berlebih, diserahkan kepada masjid atau dishodaqohkan kepada orang-orang fakir dan miskin.[11]

Untuk memberikan penjelasan pada pendapat yang kedua, yaitu bolehnya mengganti waqaf jika dibutuhkan, atau demi kemaslahatan yang lebih besar, berikut kami bawakan dalil-dalil yang mendukung pendapat tersebut. Diantaranya sebagai berikut:

1. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْلَا حَدَاثَةُ عَهْدِ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَلَجَعَلْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ فَإِنَّ قُرَيْشًا حِينَ بَنَتْ الْبَيْتَ اسْتَقْصَرَتْ وَلَجَعَلْتُ لَهَا خَلْفًا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Seandainya kaum-mu tidak baru saja meninggalkan masa kekafiran, sesungguhnya aku pasti merobohkan Ka’bah dan aku pasti membangunnya di atas fondasi Ibrahim, karena sesungguhnya suku Quraisy kurang ketika mereka membangun (memperbaiki) Ka’bah. Dan sesungguhnya aku pasti membuat pintu belakang untuk Ka’bah”. [HR Bukhari, no. 126; Muslim, no. 1.333. Dan ini lafazh bagi Imam Muslim]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwa Ka’bah merupakan waqaf yang paling utama di muka bumi. Seandainya merubah dan menggantinya dengan apa yang dijelaskan oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (seperti dalam hadits di atas) itu wajib, (tentu) Beliau tidak akan meninggalkannya. Sehingga dapat diketahui, bahwa hal itu dibolehkan dan lebih mashlahat, seandainya bukan karena apa yang telah beliau sebutkan, yaitu suku Quraisy baru saja masuk Islam. Demikianlah, dalam hadits ini (bolehnya) mengganti bangunan Ka’bah dengan bangunan yang lain. Dengan demikian diketahui bahwa secara umum, demikian ini dibolehkan. Mengganti susunan (bangunan) dengan susunan yang lain adalah termasuk salah satu jenis mengganti”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/244).

2. Abdullah bin Umar berkata:

أَنَّ الْمَسْجِدَ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَبْنِيًّا بِاللَّبِنِ وَسَقْفُهُ الْجَرِيدُ وَعُمُدُهُ خَشَبُ النَّخْلِ فَلَمْ يَزِدْ فِيهِ أَبُو بَكْرٍ شَيْئًا وَزَادَ فِيهِ عُمَرُ وَبَنَاهُ عَلَى بُنْيَانِهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّبِنِ وَالْجَرِيدِ وَأَعَادَ عُمُدَهُ خَشَبًا ثُمَّ غَيَّرَهُ عُثْمَانُ فَزَادَ فِيهِ زِيَادَةً كَثِيرَةً وَبَنَى جِدَارَهُ بِالْحِجَارَةِ الْمَنْقُوشَةِ وَالْقَصَّةِ وَجَعَلَ عُمُدَهُ مِنْ حِجَارَةٍ مَنْقُوشَةٍ وَسَقَفَهُ بِالسَّاجِ

Sesungguhnya pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masjid (Nabawi) dibangun dengan batu bata, atapnya adalah pelepah (dahan kurma), tiang-tiangnya batang pohon kurma. Abu Bakar tidak manambah padanya sedikitpun. Umar menambahkan pada (luas)nya, dan membangunnya seperti bangunannya di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan batu bata dan pelepah (dahan kurma), dan mengembalikan tiang-tiangnya dengan batang kayu. Kemudian Utsman merubahnya dan manambah padanya dengan banyak tambahan. Beliau membangun temboknya dengan batu yang diukir dan kapur (semen), menjadikan tiang-tiangnya dengan batu yang diukir, dan atapnya dengan saaj (jenis kayu yang baik). [HR Bukhari, no. 446].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Intinya, batu bata dan batang kayu yang dulunya merupakan waqaf diganti dengan lainnya oleh Khulafaur Rasyidun. Dan ini termasuk permasalahan yang paling besar, tetapi tidak ada orang yang mengingkarinya. Dan tidak ada perbedaan antara mengganti bangunan dengan bangunan, dengan mengganti lokasi tanah kosong dengan lokasi tanah kosong yang lain, jika mashlahat menuntut hal itu. Oleh karena itulah Umar bin Al Khaththab mengganti Masjid Kufah dengan masjid lainnya dan mengganti lokasinya. Dan lokasi yang pertama menjadi pasar bagi para pedagang kurma. Lokasi itu menjadi pasar, setelah sebelumnya menjadi masjid. Ini merupakan (dalil) yang paling kuat tentang (bolehnya) mengganti waqaf demi kemashlahatan”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/244-245).

3. Perbuatan Khalifah Umar bin Al Khaththab yang mengganti lokasi Masjid Kufah ke tempat lain, dan bekas masjid pertama itu untuk pasar pedagang kurma.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Adapun mengganti lokasi dengan lokasi yang lain, maka ini telah dinyatakan oleh (Imam) Ahmad dan lainnya tentang bolehnya, karena mengikuti para sahabat Rasulullah n . Hal itu telah dilakukan oleh Umar. Permasalahan itu telah dikenal luas dan tidak diingkari”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/253).

Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata: “Namun diantara sahabat-sahabat Imam Ahmad ada yang melarang mengganti masjid, hewan qurban, dan tanah waqaf. Dan seperti itu merupakan pendapat (Imam) Syafi’i dan lainnya. Akan tetapi, nash-nash (hadits), riwayat-riwayat (sahabat), dan qiyas menetapkan dibolehkannya mengganti (masjid, hewan qurban, dan tanah waqaf) untuk mashlahat. Wallahu k a’lam”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/253).

4. Qiyas terhadap nadzar. Bahwa mengganti nadzar dengan yang lebih baik hukumnya boleh. Sehingga mengganti waqaf dengan yang lebih baik hukumnya juga boleh.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلًا قَامَ يَوْمَ الْفَتْحِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ لِلَّهِ إِنْ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكَ مَكَّةَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ رَكْعَتَيْنِ قَالَ صَلِّ هَاهُنَا ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ فَقَالَ صَلِّ هَاهُنَا ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ فَقَالَ شَأْنُكَ إِذَنْ ) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا بِالْحَقِّ لَوْ صَلَّيْتَ هَاهُنَا لَأَجْزَأَ عَنْكَ صَلَاةً فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ)

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa sesungguhnya ada seorang laki-laki berdiri pada hari Fathul Makkah lalu berkata: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya aku telah bernadzar karena Allah. Jika Allah memenangkan Makkah atasmu, aku akan shalat dua raka’at di Baitul Maqdis”. Beliau bersabda,”Shalatlah di sini,” lalu lelaki itu mengulanginya kepada Beliau, maka Beliau bersabda,”Shalatlah di sini,” lalu lelaki itu mengulanginya kepada Beliau, maka Beliau bersabda,”Kalau begitu, terserah padamu.” [HR Abu Dawud, no. 3.305, Ahmad, dan Darimi].

Setelah membawakan beberapa hadits dan perkataan ulama tentang bolehnya mengganti nadzar dengan nadzar sejenisnya yang lebih baik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Berdasarkan ini, jika seseorang bernadzar bahwa dia akan mewaqafkan sesuatu, lalu dia mewaqafkan (sesuatu) yang lebih baik darinya, hal itu lebih baik. Jika seseorang bernadzar bahwa dia akan membangun sebuah masjid karena Allah, yang dia sebutkan sifatnya, atau dia akan mewaqafkan sebuah waqaf yang dia sebutkan sifatnya, lalu dia membangun masjid yang lebih baik dari itu, dan mewaqafkan waqaf yang lebih baik dari itu, hal itu lebih baik”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/249).

5. Membiarkan tanah waqaf tanpa dimanfaatkan termasuk menyia-nyiakan harta, menyia-nyiakan tujuan waqaf. Maka lebih baik mengantikannya dengan yang lebih bermanfaat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah membenci terhadap kamu (dalam) tiga perkara. (Yaitu) banyak bicara, menyia-nyiakan harta, dan banyak soal (bertanya masalah yang tidak perlu; meminta harta orang lain). (HR Bukhari-Muslim, dari Mughirah bin Syu’bah).

Ibnu ‘Aqil mengatakan: “Waqaf adalah untuk selamanya. Namun ketika tidak memungkinkan mengekalkannya pada bentuk pengkhususannya (yaitu pada bentuk aslinya, Red), maka kita kekalkan tujuan waqaf, yaitu mengambil manfaatnya terus-menerus pada barang lainnya. Dan sampainya penggantian sebagaimana sampainya barang-barang (waqaf). Adapun kejumudan kita pada barang waqaf dengan tanpa pemanfaatan, merupakan perbuatan menyia-nyiakan tujuan (waqaf)”. [12]

Setelah kita mengetahui penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang lebih kuat, adalah yang membolehkan mengganti waqaf dengan yang lebih baik, karena demi kepentingan atau karena mashlahat yang lebih besar.
Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Minhajul Muslim, hlm. 419
[2]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/250)
[3]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/257)
[4]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah (2/924), karya Dr. Ahmad Mufawi
[5]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah (2/924), karya Dr. Ahmad Mufawi.
[6]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah (2/924), karya Dr. Ahmad Mufawi
[7]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/257)
[8]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/258)
[9]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/923, karya Dr. Ahmad Mufawi.
[10]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram, (4/258)
[11]. Minhajul Muslim, hlm. 419.
[12]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram, 4/258.

Sumber: http://www.almanhaj.or.id

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Related Posts

Category: Artikel, Artikel Islam

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Artikel

  • Artikel Islam: Buah Keimanan Kepada Qadha’ Dan Qadar : Mengetahui Hikmah Allah, Ketenangan Hati Ketentraman Jiwa

    Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd 21. Mengetahui Hikmah Allah Azza Wa Jalla Iman kepada qadar dengan cara yang benar akan mengungkap bagi manusia hikmah Allah Azza wa Jalla dalam apa yang ditentukan-Nya, berupa kebaikan dan keburukan. Lantas dia mengetahui bahwa di balik pemikirannya dan imajinasinya ada Dzat yang lebih agung, lebih tahu, dan lebih
  • Dakwah Islam: Targetku, Apa Kabarmu?

    dakwatuna.com - Ramadhan perlahan bergegas, menjauh. Aku sadar dan paham betul bahwa ia akan meninggalkanku, kita semua. Lalu ku beranjak mengambil catatan kecilku dengan malu-malu. Pandanganku tertuju pada satu halaman yang penuh dengan poin-poin dan disertai tanda-tangan semacam perjanjian. Kamar imajinasi, 18 Agustus 2012 Tilawah Al Qur’an …. satu kali khatam Aku tidak terkejut sama sekali.
  • Artikel Islam: Bagaimana Ulama Berijtihad

    Oleh Ustadz Muhammad Arifin Badri MA Allah Azza wa Jalla telah menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Rasul dan agama Islam sebagai penutup seluruh syari’at dan agama. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullâh dan penutup nabi-nabi. Dan adalah
  • Artikel Islam: Bagaimana Mengeluarkan Zakat Perhiasan Emas

    Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apa hukum Islam tentang perhiasan yang digunakan wanita, apakah wajib dizakati ? Ataukah untuk kehati-hatian lebih baik menzakatinya .? Jawaban Mengenai masalah ini, sebagaimana yang telah Anda ketahui, adalah masalah khilafiyah, yakni ada perbedaan di antara ulama. Sebagian ulama mengatakan tidak
  • Artikel Islam: Masa Haid

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan masa atau lamanya haid. Ada sekitar enam atau tujuh pendapat dalam hal ini. Ibnu Al-Mundzir mengatakan : “Ada kelompok yang berpendapat bahwa masa haid tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya”. Pendapat ini seperti pendapat Ad-Darimi di atas, dan menjadi pilihan
  • Artikel Islam: 35-37. Mengambil Ilmu dari Orang Bodoh. Banyaknya Para Wanita Yang Berpakaian Tetapi Telanjang

    Oleh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil 35. MENGAMBIL ILMU DARI ORANG BODOH (BUKAN AHLINYA) Diriwayatkan oleh Imam ‘Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah, dengan sanadnya dari Abu Umayyah al-Jumahi Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلاَثًا: إِحْدَاهُنَّ: أَنْ يَلْتَمِسَ الْعِلْمَ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ. “Ada tiga hal yang termasuk tanda-tanda Kiamat,
  • Artikel Islam: Warga Jakarta di Johor, Malaysia, Dukung Hidayat+Didik

    Warga Jakarta di Johor, Malaysia, Dukung Hidayat+Didik. (Sri Widyastuti) dakwatuna.com - Dukungan kepada pasangan calon Gubernur DKI bernomor urut 4, Hidayat Nurwahid dan Didik J Rachbini terus saja mengalir. Baru-baru ini puluhan  warga Jakarta yang tinggal di Johor, Malaysia berkumpul di Taman Mutiara Rini Johor (17/6/2012) yang bertepatan dengan Father Day di Malaysia. Para pendukung yang
  • Artikel Islam: Warisan Dari Nenek

    Abi Daffa Assalamu'alaikum Wr. Wb. Ustadz yang dirahmati Allah, ana mau bertanya lagi, begini ustadz, Beberapa tahun lalu nenek meninggal, nah dalam pengurusannya meninggalkan hutang. Lantas keluarga mengambil keputusan menjual tanah nenek untuk melunasi utang. Kemudian sisanya masih banyak. Bagaimana cara pembagiannya terhadap ibu ana, anak laki2 (saudara ana) dan anak perempuan (ana dan saudari
  • Artikel Islam: Hadd Sakr (Minuman Keras)

    Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi Pengharaman Khamr Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum)
  • Artikel Islam: Bahagia Dengan Husnul Khatimah Sengsara Dengan Su’ul Khatimah

    Oleh Khalid bin ‘Abdurrahman asy Syayi’ Keadaan seseorang saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam hadits yang shahih : إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ رواه البخاري وغَيْرُهُ. “Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. Oleh sebab itulah, seorang hamba
  • Artikel Islam: Nasihat Kepada Orang Yang Keberatan Mengeluarkan Zakat, Zakat Dibagikan Sendiri

    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana nasihat anda kepada orang yang bakhil dalam mengeluarkan zakat? Mudah-mudahan hatinya terbuka sehingga kembali kepada al-haq? Jawaban Nasihatku kepada orang yang bakhil dalam mengeluarkan zakat, hendaklah dia bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hendaklah dia
  • Artikel Islam: I’tikaaf

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas DEFINISI I’TIKAAF I’tikaaf berasal dari kata: عَكَفَ – يَعْكُفُ – عُكُوْفًا. Kemudian disebut dengan i’tikaaf: اِعْتَكَفَ – يَعْتَكِفُ – إِعْتِكَافًا . I’tikaaf menurut bahasa ialah: “Menetapi sesuatu dan menahan diri padanya, baik sesuatu berupa kebaikan atau kejahatan.” Allah berfirman: إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ
  • Artikel Islam: Apakah Orang Yang Dinamakan Salafi Dianggap Sebagai Orang Yang Membentuk Golongan ?

    Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan Pertanyaan Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah orang yang dinamakan salafi dianggap sebagai orang yang membentuk golongan/mutahazzib? Jawaban Penamaan salafi, bila sebenarnya (bukan sekedar nama belaka) adalah tidak mengapa. Yang tidak boleh bila hanya dakwaan saja … Oleh karenanya tidak boleh memakai nama
  • Artikel Islam: Lautan Rindu

    (hanggaady.blogspot.com) dakwatuna.com Jiwa ini dipenuhi lautan rindu Rindu pada sang Rasul mulia Agar ibadah bukanlah kewajiban tapi ekspresi kesyukuran Jiwa ini merindu Abu Bakar As Shidiq Agar selalu kubenarkan bisikan kebaikan dari hatiku Jiwa ini merindu Umar bin Khattab Agar tak pernah takut diri ini menegakkan kebenaran Jiwa ini merindu Utsman bin Affan Agar bisa
  • Artikel Syariah: Hukum Pergi Haji Tidak Diridhai Suami

    Assalamu'alaikum Ust, sy pnya ibu mertua yg hubungannya tdk harmonis dg suami (7th psh rnjang). Ayah mertua pnya sifat n kbiasaan buruk (judi) dan sgt kikir. Bliau tdk mau membiayai haji istrinya pdhl bliau mampu (thn dpn bliau brangkt haji seorg diri). Krn hal inilah ibu mertua sy smakin tdk menyukai suaminya bahkn prnah minta
  • Dakwah Islam: Zakat untuk Orang yang Membutuhkan

    – Bayar Zakat dakwatuna.com Pertanyaan: Assalamualaikum Wr Wb Saya secara rutin berlatih mengeluarkan zakat 2,5 persen dari pendapatan dan dimasukkan ke dalam kotak zakat. Zakat tersebut kami keluarkan pada saat ada orang yang membutuhkan, seperti orang yang membutuhkan dana untuk mengambil ijazah anaknya yang bersekolah. Apakah zakat saya tersebut benar telah saya berikan kepada yang
  • Artikel Islam: Prinsip Akidah Islam

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Aqidah Islam dasarnya adalah iman kepada Allah, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan sunnah rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah berfirman dalam kitab suci-Nya.
  • Dakwah Islam: Habis Shalat, Pemimpin Organisasi Islam Nepal Ditembak Mati

    Peta Nepal (yourchildlearns.com) dakwatuna.com – Kathmandu. Dua pria bersenjata telah menembak mati seorang pemimpin masyarakat Muslim di ibu kota Nepal, Kathmandu, Senin (26/9), sehingga memicu protes kemarahan para pendukung dan keluarganya. Faizan Ahamad Ansari, 36, sekjen Perhimpunan Islam – organisasi untuk meningkatkan pendidikan di antara umat Islam Nepal – ditembak mati di jalan oleh dua
  • Syariah Islam: Hukum Bisnis MLM dan Money Game (Bagian Kedua)

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 7/4/2009 | 12 Rabbi al-Thanni 1430 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Muslim: Bisnis Dengan Sistem MLM Sumber: http://www.dakwatuna.com | 22/12/2006 | 01 Dhul-Hijjah 1427 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comArtikel Islam: Melepas Belenggu Taklid dan Fanatisme Sumber: http://www.dakwatuna.com | 7/4/2009 | 12 Rabbi al-Thanni 1430 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comDakwah Islam:
  • Dakwah Muslim: Elegi Manusia Debu

    (Reuters) dakwatuna.com Beranjak bangkit telah terik Memacu alas di atas aspal Roda-roda berputar melangkahi waktu Sekelebat senyum tersangkut di pintu Darah-darah yang berdesir Keringat-keringat yang menjadi bulir Debu-debu yang bergilir Di manakah kau takdir? Paras kota kian muram Rupiah tertanam hutan beton menjulang Celah kayu berderit Penghuni gubuk tua menjerit Senyum tulus dari sudut pegunungan
  • Dakwah Islam: Utusan PKPU Tiba di Istanbul Turki

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 10/6/2010 | 28 Jumada al-Thanni 1431 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Syariah: Muslim Turki Minta Masjid Hagia Sophia Difungsikan Kembali Masjid Hagia Sophia (hagiasophia.com)dakwatuna.com – Istanbul. Rencana pemerintah Turki untuk mengaktifkan kembali aktivitas keagamaan di masjid Hagia Sophia terus mendapat dukungan umat Isla...Dakwah Muslim: Akan Dirilis “Fetih 1453″, Film tentang
  • Artikel Islam: Menjual Makanan Yang Mengandung Babi Atau Alkohol Kepada Non Muslim

    Oleh Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta Pertanyaan. Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Apakah boleh menjual makanan-makanan yang didalamnya megandung babi atau alkohol ? sebab di Amerika banyak kaum muslimin yang memiliki toko-toko yang menjual bir, daging babi, rokok, atau bekerja padanya. Jawaban. Tidak boleh menjual apa yang diharamkan memakannya
  • Dakwah Islam: Musim Semi Telah Tiba

    (stormforce31.com) dakwatuna.com – Summer time is just on the corner! Insya Allah sebentar lagi kehangatan sinar mentari musim panas akan kembali kita nikmati. Seolah-olah kembali berada di pelukan mentari bumi pertiwi, rasanya sudah tidak sabar menanti summer tiba. Walaupun sedang dalam musim semi, dari jendela saya masih bisa menyaksikan batang-batang pohon-pohon yang masih polos tanpa
  • Syariah Islam: Ketika Sabar Harus tak Terbatas

    (kawanimut) dakwatuna.com – Di usia yang telah melewati angka 20 atau bahkan lebih dari itu, tak sedikit yang mengalami goncangan-goncangan hati bagi para jomblo (baca: single). Usia yang terbilang rawan menurut saya, dimana pada masa itu gejala ingin di cintai dan di sayangi sangatlah besar. Belum lagi melihat keadaan sekitar yang sangat membuat hati miris
  • Artikel Islam: Tenteram, Indikasi Kebenaran?

    Oleh Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin Perkembangan teknologi semakin canggih menghiasi keberadaan dunia ini. Dari yang sederhana hingga yang rumit, seolah terjawab oleh arus teknologi terkini. Jarak yang dulu dianggapnya jauh, kini bisa ditempuh dalam hitungan jam. Peristiwa di belahan dunia lain, bisa langsung diketahui oleh lainnya dalam sekekap. Pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga manusia,
  • Artikel Islam: Suami Isteri Wajib Mandi Setelah Jima Walaupun Tidak Orgasme, Mencampuri Isteri Setelah Melahirkan

    Oleh Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq Apakah suami isteri wajib mandi setelah jima’, walaupun tidak mengalami orgasme? Jawaban Ya, keduanya wajib mandi, baik mengalami orgasme maupun tidak, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seseorang duduk di antara empat anggota tubuh wanita (menindihnya) kemudian
  • Artikel Islam: Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : Walimah

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas 3. WALIMAH Walimatul ‘urus (pesta pernikahan) hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ. ”Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing” • Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang-orang yang mengadakan walimah agar tidak hanya mengundang orang-orang kaya
  • Artikel Islam: Akan Muncul Da’i-Da’i Yang Menyeru Ke Neraka Jahannam

    Oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku” Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent)
  • Artikel Islam: Siwak Si Kayu Ajaib Pelindung Gigi

    Subhanallah, maha suci Allah … Sungguh indah dan sempurna agama yang diturunkanNya. Sungguh mulia hukum-hukum yang disyariatkanNya. Tak ada satupun dari yang diturunkanNya dan yang diciptakanNya, kecuali pasti ada manfaat dan hikmahnya. Kesempurnaan Islam ini benar-benar tiada bandingannya oleh agama-agama selainnya. Diantara kesempurnaan Islam ialah syariat bagi ummatnya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, seperti: kewajiban
  • Artikel Islam: Istinja Dan Adab-Adab Buang Hajat : Hukum Dan Dalilnya

    Oleh Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman. Pertanyaan. Apa yang dimaksud dengan istinja ? Bagaimana hukumnya serta apa dalilnya ? Jawaban. Istinja adalah membersihkan apa-apa yang telah keluar dari suatu jalan (di antara dua jalan : qubul atau dubur) dengan menggunakan air atau dengan batu atau yang sejenisnya (benda yang bersih dan suci ). Adapun hukumnya
  • Artikel Islam: Sunah-Sunah Haji

    Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi Haji Adalah Salah Satu Ibadah dari Sekian Banyak Ibadah, Mempunyai Rukun, Hal-Hal yang Wajib dan Hal-Hal yang Sunnah I. Sunah-Sunnah Haji A. Sunah-Sunnah Ihram: 1. Mandi ketika ihram Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti pakaiannya untuk ihram lalu mandi. 2.
  • Artikel Islam: Kencing Yang Tiada Habis

    Umar Pertanyaan: Assalamualaikum. Maaf ustadz, saya mo tanya. Ada seorang teman yang kencingnya tidak berhenti, maksudnya, selalu ada sisa. Setiap kencing, setelah membasuh, dia langsung berpakaian, tetapi ketika tiap shalat, dia selalu membasahi celananya untuk menghilangkan najis yg melekat di celana tersebut akibat sisa kencing tadi. Mohon penjelasan dari ustadz mengenai masalah tsb, benarkah perlakuannya
  • Artikel Islam: Istinja Dan Adab-Adab Buang Hajat : Berbicara Ketika Buang Hajat?

    Oleh Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman Pertanyaan. Bagaimana hukum berbicara ketika kondisi buang hajat dan apa dalilnya? Jawaban. Hukumnya adalah sangat makruh (dibenci) kalau tidak terpaksa atau tidak ada keperluan. Adapun dalilnya adalah riwayat dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu dia berkata. “Artinya : Bahwasanya ada seorang laki-laki lewat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang
  • Dakwah Islam: Ketokohan adalah Tanggung Jawab

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 6/8/2012 | 18 Ramadhan 1433 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsDakwah Islam: Pahlawan Sejati dakwatuna.comBadanmu yang ringkih Membuatku tak percayaKondisi keluargamu yang sulit Membuatku semakin tak percayaSunyi senyap semua bahasa kata Tak melihat alam duniamu yang meranaJangan beritahu...Artikel Islam: Aku Ingin Jadi Salah Seorang Penduduknya Sumber: http://www.dakwatuna.com | 10/8/2009 | 18
  • Dakwah Muslim: NU Tunggu Sidang Itsbat

    . (MICOM) dakwatuna.com – Jakarta. Dalam menetapkan awal puasa tanggal 1 Ramadan 1433 H, Nahdlatul Ulama (NU) menunggu keputusan bersama dengan pemerintah di Kementerian Agama pada sidang itsbat yang akan digelar, Kamis (19/7). “Kami menunggu hasil rukyat pada sidang itsbat tanggal 19 Juli bersama pemerintah. Kami melihat realitas di lapangan berdasarkan hasil obsevasi,” kata Ketua
  • Artikel Islam: Aqidah Azab Kubur Mutawatir

    Oleh Ustadz Agus Hasan Bashori Allah berfirman: فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)” . Diantara aqidah Islam yang diimani oleh
  • Artikel Islam: Meluruskan Cerita Tentang Tsa’labah Bin Haathib

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Ada sebuah hadits yang berbunyi: وَيْحَكَ يَا ثَعْلَبَةُ، قَلِيْلٌ تُؤَدِّيْ شُكْرَهُ خَيْرٌ مِنْ كَثِيْرٍ لاَتُطِيْقُهُ. أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ مِثْلَ نَبِيِّ اللهِ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ شِئْتُ أَنْ تَسِيْلَ مَعِيَ الْجِبَالُ فِضَّةً وَذَهَبًا لَسَالَتْ. “Artinya : Celaka engkau wahai Tsa’labah! Sedikit yang engkau syukuri itu lebih baik dari
  • Dakwah Islam: Bercermin Pada Kesabaran Utsman dan Kokohnya Umar

    . dakwatuna.com - “Dan berilah perumpamaan kepada mereka(manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al Kahfi: 45) Al Qur’an menjadi kiblat dan teladannya. Karena itulah menjadikan murninya
  • Dakwah Muslim: Temukan Kebahagiaan Sejati dalam Rasa Syukur

    dakwatuna.com - Bismillahirrahmanirrahiim. Siapa yang tidak ingin jadi pemenang atau menjadi yang terbaik? Jika dunia ini adalah kompetisi maka mereka yang ada di dunia pasti berlomba-lomba agar menjadi yang terbaik. Berbeda dengan hukum rimba, siapa yang menang akan bertahan hidup, memiliki wilayah hingga menguasai hutan. Lalu yang kalah, bersiaplah menjadi mangsa dan menemui ajal. Jika begitu,
  • Artikel Islam: Kecuali Itu, Semua Karyawan Biasa

    dakwatuna.com – Ustadz Yahya, begitu nama beliau biasa disebut/dipanggil oleh santri-santrinya -adik yang kasih tahu. Sebetulnya sudah sering dengar tentang beliau -yang ini juga adik yang cerita. Alhamdulillah kemarin punya kesempatan bertemu dan silaturahim ke tempat beliau – ini pun adik yang minta, ada urusan pondok yang perlu dikonsultasikan dengan beliau. Jadi sebagai kakak yang
April 2014
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  


http://www.baitulquran.or.id