Rumah Yatim

Artikel Islam: Menjual Tanah Waqaf

Pertanyaan.
Ada sebuah masjid di tepi jalan. Masjid itu sudah tua dan tidak cukup lagi menampung jama’ah shalat. Ada orang mewaqafkan tanah di seberang jalan. Kami perlu untuk meluaskan masjid tersebut, tetapi lokasi sudah habis. Bolehkah menjual tanah waqaf di seberang jalan itu, lalu uangnya dibelikan tanah di samping masjid untuk perluasan? Tokoh-tokoh agama di daerah kami menyatakan bahwa “tanah waqaf itu tidak boleh dijual”. Oleh karena itu, tanah waqaf di seberang jalan tersebut dibiarkan begitu saja, tidak dimanfaatkan. Hal ini sudah berlangsung lama. Kami minta penjelasan mengenai hal ini jazakumulloh khoiro.
Abdullah,
Masaran, Sragen, Jawa Tengah.

Jawaban.
Alhamdulillah, wash-shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’d,
Waqaf berasal dari kata “waqf”. Secara bahasa Arab, artinya menahan. Adapun ta’rif (definisi) waqaf secara syari’at, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi berkata: “Waqaf adalah menahan pokok/asal (harta), sehingga tidak diwariskan, tidak dijual, dan tidak dihibahkan, dan hasilnya diberikan kepada orang-orang yang diberi waqaf”. [1]

Sedangkan menurut Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, ta’rif waqaf secara syari’at adalah, pemilik harta menahan hartanya yang diambil manfaatnya, bersamaan tetapnya dzat harta itu dari usaha-usaha dengan barangnya, dan manfaatnya diberikan pada sesuatu yang termasuk jenis-jenis ketaatan untuk mencari wajah Allah. [2]

Dari keterangan di atas, kita mengetahui bahwa pada asalnya, waqaf tidak boleh dijual. Karena, jika dijual dan barang waqafnya sudah tidak ada wujudnya, maka bukan lagi waqaf (menahan pokok/asal harta). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ

Dari Ibnu Umar bahwa Umar binAl Khaththab mendapatkan tanah di kota Khaibar. Lalu dia mendatangi Nabi (untuk) meminta petunjuk kepada Beliau tentang tanah tersebut. Dia berkata,”Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya aku mendapatkan tanah di kota Khaibar. Aku tidak pernah mendapatkan harta sama sekali yang lebih berharga padaku darinya. Maka apakah yang Anda perintahkan tentang tanah itu?” Beliau bersabda,”Jika engkau mau, engkau menahan pokoknya, dan engkau bershadaqah dengan (hasil)nya.” Maka Umar(pun) bershadaqah dengan (hasil)nya, dengan syarat bahwa tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, tidak diwariskan. Umar bershadaqah dengan (hasil) tanah itu untuk orang-orang miskin, karib kerabat, budak-budak, fi sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak mengapa orang yang mengurusnya (mengelolanya) memakan darinya dengan baik, juga (tidak mengapa) dia memberi makan (darinya) dengan tidak menyimpan harta. [HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi].

Kemudian bagaimana jika tanah waqaf terbengkelai dan perlu untuk dijual dan dibelikan tanah yang lain untuk dijadikan sebagai waqaf dan dimanfaatkan? Apakah hal itu boleh? Di sini terdapat dua pendapat.

Pendapat Pertama : Tidak Boleh Dijual.
Ini disebutkan sebagai pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i. [3] Imam Malik rahimahullah berkata,”Barang waqaf tidak boleh dijual, walaupun telah roboh. Tetapnya barang-barang waqaf milik Salaf yang roboh, merupakan dalil terlarangnya hal itu (menjual barang waqf walaupun telah roboh).” [4] Tetapi, Imam Malik rahimahullah juga berpendapat, jika imam (penguasa) berpendapat (bahwa) penjualan itu lebih mashlahat, (maka) hal itu boleh dan imam menjadikannya pada yang semisalnya. [5]

Adapun Asy Syafi’iyah (orang-orang yang menyatakan sebagai pengikut Imam Asy Syafi’i) berpendapat, jika seseorang mewaqafkan masjid, lalu tempat itu roboh dan terhenti shalat di sana, (maka) barang waqf tersebut tidak dikembalikan kepada pemilik dan tidak dirobah (tidak diganti). [6]

Pendapat Kedua : Waqaf tidak boleh dijual dan tidak boleh ditukar, kecuali jika manfaat-manfaat waqaf terbengkelai, maka boleh dijual dan boleh ditukar dengan lainnya.

Demikian ini pendapat Imam Ahmad. [7]

Berkenaan dengan pendapat kedua ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, bahwa mengganti sesuatu yang dinadzarkan, dan sesuatu yang diwaqafkan dengan sesuatu yang lebih baik darinya, sebagaimana mengganti hewan qurban, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

Pertama : Mengganti karena kebutuhan. Seperti (waqaf) terbengkelai, lalu dijual, dan dengan uangnya dibelikan penggantinya. Ini semua boleh, karena (yang menjadi) pokoknya, jika sesuatu yang dimaksudkan itu tidak terjadi, maka gantinya (berlaku sebagai) menggantikannya.

Kedua : Mengganti untuk mashlahat yang lebih besar (kuat). Seperti mengganti hewan qurban yang lebih baik darinya. Atau ada sebuah masjid lalu dibangun masjid lain yang lebih mashlahat bagi penduduk suatu daerah daripada masjid pertama, dan masjid yang pertama dijual. Menurut (imam) Ahmad dan ulama lainnya, yang seperti itu dan semacamnya dibolehkan. Imam Ahmad berhujjah dengan (perbuatan) Umar yang memindahkan Masjid Kufah yang lama ke tempat yang lain. Dan lokasi masjid yang pertama menjadi pasar bagi para pedagang kurma. Maka (tindakan seperti) ini, (berarti) mengganti lokasi masjid. Lihat Majmu’ Fatawa (31/252).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata: “Bersamaan (Sesuai) dengan kebutuhan, wajib mengganti waqaf dengan yang semisalnya. Dan tanpa adanya kebutuhan, boleh (mengganti waqaf) dengan yang lebih baik darinya karena nampak mashlahatnya”. [8]

Seorang tokoh ulama Hanafiyah, yang bernama Ibnu ‘Abidin berkata: Ketahuilah, bahwa mengganti waqaf itu ada tiga bentuk.

Pertama : Pemberi waqaf mensyaratkannya (yakni boleh mengganti waqaf) pada dirinya sendiri, atau pada orang lain, atau pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Berdasarkan (pendapat) yang benar, maka mengganti waqaf pada bentuk ini dibolehkan. Ada yang mengatakan, (demikian) ini disepakati bolehnya.

Kedua : Pemberi waqaf tidak mensyaratkannya, yaitu dia tidak mensyaratkan mengganti waqaf atau dia diam. Akan tetapi waqaf itu menjadi (harta) yang tidak dimanfaatkan sama sekali, yaitu tidak menghasilkan (manfaat) sama sekali, dan tidak mencukupi biaya (pengelolaannya, jika dikelola, Red), maka menurut pendapat yang lebih benar, hal itu juga boleh (digantikan) jika diizinkan oleh hakim (syari’at) dan memandang adanya manfaat padanya.

Ketiga : Pemberi waqf tidak mensyaratkannya juga. Dan secara umum waqaf tersebut ada manfaatnya, tetapi gantinya lebih baik (dari segi) tambahannya dan manfaatnya. Menurut pendapat yang benar dan terpilih (dalam madzhab Hanafiyah, Red), demikian ini tidak dibolehkan menggantinya. [9]

Kembali kepada soal yang ditanyakan, maka permasalahan ini masuk pada point kedua, yang hukumnya boleh mengganti waqaf. Yakni boleh menjualnya dan menggantikannya dengan tanah lainnya yang dapat dimanfaatkan. Sedangkan pada masalah ketiga -yang menurut Ibnu Abidin menyatakan tidak bolehnya- maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t membolehkannya, sebagaimana telah berlalu nukilan dari perkataan beliau.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menyatakan, jika barang yang diwaqafkan berkurang atau manfaat-manfaatnya menjadi sedikit, sedangkan yang selainnya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang-orang yang menerima waqaf, maka dalam perkara ini terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad. (Yaitu), dari kalangan yang bermadzhab (Hanbali, Red) adalah terlarang (menukar, Red), dan riwayat yang lainnya membolehkan. Demikian inilah pilihan Syaikhul Islam. [10]

Begitu pula pendapat Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi, ketika menjelaskan hukum-hukum waqaf, pada point ketiga dan kempat, beliau menyatakan. Ketiga : Waqf menjadi wajib dengan semata-mata pengumumannya. Atau diberikan (kepada penerima waqaf), atau diserahkan kepada orang yang diberi waqaf. Sehingga setelah itu tidak boleh dibatalkan, tidak boleh dijual, dan tidak boleh dihibahkan. Keempat : Jika manfaat-manfaat waqaf terbengkelai karena peperangan, maka sebagian ulama membolehkan menjualnya. Uangnya dipergunakan untuk yang semisalnya. Dan jika (masih) berlebih, diserahkan kepada masjid atau dishodaqohkan kepada orang-orang fakir dan miskin.[11]

Untuk memberikan penjelasan pada pendapat yang kedua, yaitu bolehnya mengganti waqaf jika dibutuhkan, atau demi kemaslahatan yang lebih besar, berikut kami bawakan dalil-dalil yang mendukung pendapat tersebut. Diantaranya sebagai berikut:

1. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْلَا حَدَاثَةُ عَهْدِ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَلَجَعَلْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ فَإِنَّ قُرَيْشًا حِينَ بَنَتْ الْبَيْتَ اسْتَقْصَرَتْ وَلَجَعَلْتُ لَهَا خَلْفًا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Seandainya kaum-mu tidak baru saja meninggalkan masa kekafiran, sesungguhnya aku pasti merobohkan Ka’bah dan aku pasti membangunnya di atas fondasi Ibrahim, karena sesungguhnya suku Quraisy kurang ketika mereka membangun (memperbaiki) Ka’bah. Dan sesungguhnya aku pasti membuat pintu belakang untuk Ka’bah”. [HR Bukhari, no. 126; Muslim, no. 1.333. Dan ini lafazh bagi Imam Muslim]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwa Ka’bah merupakan waqaf yang paling utama di muka bumi. Seandainya merubah dan menggantinya dengan apa yang dijelaskan oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (seperti dalam hadits di atas) itu wajib, (tentu) Beliau tidak akan meninggalkannya. Sehingga dapat diketahui, bahwa hal itu dibolehkan dan lebih mashlahat, seandainya bukan karena apa yang telah beliau sebutkan, yaitu suku Quraisy baru saja masuk Islam. Demikianlah, dalam hadits ini (bolehnya) mengganti bangunan Ka’bah dengan bangunan yang lain. Dengan demikian diketahui bahwa secara umum, demikian ini dibolehkan. Mengganti susunan (bangunan) dengan susunan yang lain adalah termasuk salah satu jenis mengganti”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/244).

2. Abdullah bin Umar berkata:

أَنَّ الْمَسْجِدَ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَبْنِيًّا بِاللَّبِنِ وَسَقْفُهُ الْجَرِيدُ وَعُمُدُهُ خَشَبُ النَّخْلِ فَلَمْ يَزِدْ فِيهِ أَبُو بَكْرٍ شَيْئًا وَزَادَ فِيهِ عُمَرُ وَبَنَاهُ عَلَى بُنْيَانِهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّبِنِ وَالْجَرِيدِ وَأَعَادَ عُمُدَهُ خَشَبًا ثُمَّ غَيَّرَهُ عُثْمَانُ فَزَادَ فِيهِ زِيَادَةً كَثِيرَةً وَبَنَى جِدَارَهُ بِالْحِجَارَةِ الْمَنْقُوشَةِ وَالْقَصَّةِ وَجَعَلَ عُمُدَهُ مِنْ حِجَارَةٍ مَنْقُوشَةٍ وَسَقَفَهُ بِالسَّاجِ

Sesungguhnya pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masjid (Nabawi) dibangun dengan batu bata, atapnya adalah pelepah (dahan kurma), tiang-tiangnya batang pohon kurma. Abu Bakar tidak manambah padanya sedikitpun. Umar menambahkan pada (luas)nya, dan membangunnya seperti bangunannya di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan batu bata dan pelepah (dahan kurma), dan mengembalikan tiang-tiangnya dengan batang kayu. Kemudian Utsman merubahnya dan manambah padanya dengan banyak tambahan. Beliau membangun temboknya dengan batu yang diukir dan kapur (semen), menjadikan tiang-tiangnya dengan batu yang diukir, dan atapnya dengan saaj (jenis kayu yang baik). [HR Bukhari, no. 446].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Intinya, batu bata dan batang kayu yang dulunya merupakan waqaf diganti dengan lainnya oleh Khulafaur Rasyidun. Dan ini termasuk permasalahan yang paling besar, tetapi tidak ada orang yang mengingkarinya. Dan tidak ada perbedaan antara mengganti bangunan dengan bangunan, dengan mengganti lokasi tanah kosong dengan lokasi tanah kosong yang lain, jika mashlahat menuntut hal itu. Oleh karena itulah Umar bin Al Khaththab mengganti Masjid Kufah dengan masjid lainnya dan mengganti lokasinya. Dan lokasi yang pertama menjadi pasar bagi para pedagang kurma. Lokasi itu menjadi pasar, setelah sebelumnya menjadi masjid. Ini merupakan (dalil) yang paling kuat tentang (bolehnya) mengganti waqaf demi kemashlahatan”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/244-245).

3. Perbuatan Khalifah Umar bin Al Khaththab yang mengganti lokasi Masjid Kufah ke tempat lain, dan bekas masjid pertama itu untuk pasar pedagang kurma.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Adapun mengganti lokasi dengan lokasi yang lain, maka ini telah dinyatakan oleh (Imam) Ahmad dan lainnya tentang bolehnya, karena mengikuti para sahabat Rasulullah n . Hal itu telah dilakukan oleh Umar. Permasalahan itu telah dikenal luas dan tidak diingkari”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/253).

Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata: “Namun diantara sahabat-sahabat Imam Ahmad ada yang melarang mengganti masjid, hewan qurban, dan tanah waqaf. Dan seperti itu merupakan pendapat (Imam) Syafi’i dan lainnya. Akan tetapi, nash-nash (hadits), riwayat-riwayat (sahabat), dan qiyas menetapkan dibolehkannya mengganti (masjid, hewan qurban, dan tanah waqaf) untuk mashlahat. Wallahu k a’lam”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/253).

4. Qiyas terhadap nadzar. Bahwa mengganti nadzar dengan yang lebih baik hukumnya boleh. Sehingga mengganti waqaf dengan yang lebih baik hukumnya juga boleh.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلًا قَامَ يَوْمَ الْفَتْحِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ لِلَّهِ إِنْ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكَ مَكَّةَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ رَكْعَتَيْنِ قَالَ صَلِّ هَاهُنَا ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ فَقَالَ صَلِّ هَاهُنَا ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ فَقَالَ شَأْنُكَ إِذَنْ ) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا بِالْحَقِّ لَوْ صَلَّيْتَ هَاهُنَا لَأَجْزَأَ عَنْكَ صَلَاةً فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ)

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa sesungguhnya ada seorang laki-laki berdiri pada hari Fathul Makkah lalu berkata: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya aku telah bernadzar karena Allah. Jika Allah memenangkan Makkah atasmu, aku akan shalat dua raka’at di Baitul Maqdis”. Beliau bersabda,”Shalatlah di sini,” lalu lelaki itu mengulanginya kepada Beliau, maka Beliau bersabda,”Shalatlah di sini,” lalu lelaki itu mengulanginya kepada Beliau, maka Beliau bersabda,”Kalau begitu, terserah padamu.” [HR Abu Dawud, no. 3.305, Ahmad, dan Darimi].

Setelah membawakan beberapa hadits dan perkataan ulama tentang bolehnya mengganti nadzar dengan nadzar sejenisnya yang lebih baik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Berdasarkan ini, jika seseorang bernadzar bahwa dia akan mewaqafkan sesuatu, lalu dia mewaqafkan (sesuatu) yang lebih baik darinya, hal itu lebih baik. Jika seseorang bernadzar bahwa dia akan membangun sebuah masjid karena Allah, yang dia sebutkan sifatnya, atau dia akan mewaqafkan sebuah waqaf yang dia sebutkan sifatnya, lalu dia membangun masjid yang lebih baik dari itu, dan mewaqafkan waqaf yang lebih baik dari itu, hal itu lebih baik”. Lihat Majmu’ Fatawa (31/249).

5. Membiarkan tanah waqaf tanpa dimanfaatkan termasuk menyia-nyiakan harta, menyia-nyiakan tujuan waqaf. Maka lebih baik mengantikannya dengan yang lebih bermanfaat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah membenci terhadap kamu (dalam) tiga perkara. (Yaitu) banyak bicara, menyia-nyiakan harta, dan banyak soal (bertanya masalah yang tidak perlu; meminta harta orang lain). (HR Bukhari-Muslim, dari Mughirah bin Syu’bah).

Ibnu ‘Aqil mengatakan: “Waqaf adalah untuk selamanya. Namun ketika tidak memungkinkan mengekalkannya pada bentuk pengkhususannya (yaitu pada bentuk aslinya, Red), maka kita kekalkan tujuan waqaf, yaitu mengambil manfaatnya terus-menerus pada barang lainnya. Dan sampainya penggantian sebagaimana sampainya barang-barang (waqaf). Adapun kejumudan kita pada barang waqaf dengan tanpa pemanfaatan, merupakan perbuatan menyia-nyiakan tujuan (waqaf)”. [12]

Setelah kita mengetahui penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang lebih kuat, adalah yang membolehkan mengganti waqaf dengan yang lebih baik, karena demi kepentingan atau karena mashlahat yang lebih besar.
Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Minhajul Muslim, hlm. 419
[2]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/250)
[3]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/257)
[4]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah (2/924), karya Dr. Ahmad Mufawi
[5]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah (2/924), karya Dr. Ahmad Mufawi.
[6]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah (2/924), karya Dr. Ahmad Mufawi
[7]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/257)
[8]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram (4/258)
[9]. Taisirul Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/923, karya Dr. Ahmad Mufawi.
[10]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram, (4/258)
[11]. Minhajul Muslim, hlm. 419.
[12]. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram, 4/258.

Sumber: http://www.almanhaj.or.id

RUMAH YATIMrumah-yatim.balitabunda.com

Related Posts

Category: Artikel, Artikel Islam

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Artikel

  • Artikel Islam: Hukum Safar Bagi Wanita Tanpa Mahram, Syubhat-Syubhat Dan Jawabannya

    Disusun oleh Ummu ‘Abdillah As-Salafiyah SYUBHAT-SYUBHAT DAN JAWABANNYA 1. Ada orang mengatakan bahwa larangan wanita safar tanpa mahram adalah apabila menggunakan angkutan zaman dulu, seperti onta, kuda, atau lainnya, yang wanita akan mengalami kesukaran, kesusahan dan menghabiskan waktu yang lama Adapun wanita yang bersafar menggunakan angkutan zaman sekarang, baik angkutan udara, darat atau laut, maka
  • Artikel Islam: Tuntunan Zakat Fithri

    Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari Islam adalah agama agung yang telah diridhai oleh Allah Azza wa Jalla untuk manusia. Dengan rahmatNya, Allah telah menetapkan dua hari raya bagi umat ini setiap tahunnya. Dua hari raya tersebut mengiringi dua rukun Islam yang besar. ‘Idul Adh-ha mengiringi ibadah haji, dan ‘Idul Fithri mengiringi ibadah puasa
  • Artikel Islam: Kufur Difinisi Dan Jenisnya

    Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan . Definisi Kufur kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’ kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya. . Jenis Kufur Kufur ada dua jenis : Kufur Besar dan Kufur Kecil Kufur Besar Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama
  • Artikel Islam: Membina Rumah Tangga Harmonis

    Oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari Rumah tangga yang bahagia dan harmonis merupakan idaman bagi setiap mukmin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi teladan kepada kita, mengenai cara membina keharmonisan rumah tangga. Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang paling baik. Dan seorang suami harus menyadari, bahwa dalam rumahnya itu ada pahlawan di balik
  • Artikel Islam: Cara Pembayaran Zakat

    li> Jika ia mengingkari kewajiban zakat, maka hukumnya kafir dan dihukum mati sebagai orang murtad. Jika karena pelit, maka diambil zakatnya dengan paksa dan dipenjara. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah boleh menghukum orang yang menolak zakat dengan diambil separuh hartanya? Madzhab Hanbali memperbolehkannya, tetapi jumhurul ulama menolak. Dan yang rajah (kuat) bahwa hukuman maliyah
  • Artikel Muslim: Warna Cinta

    (flickr.com / Cmajor) dakwatuna.com - Apa yang terbayang saat melihat kedua orang tua ‘berantem’ mempertahankan pendapatnya masing-masing? Kesal, takut, atau ogah ikut campur. Itu pula yang terkadang saya alami saat melihat mereka beradu pendapat. Ibu bersikukuh dengan pendapatnya, dan bapak bersikeras dengan pemikirannya. Sebagaimana pasangan lainnya, dalam beberapa hal mereka punya kesamaan-kesamaan, dan dalam beberapa hal
  • Artikel Islam: Hadd Hirabah (Membegal)

    Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi Definisi Hirabah Hirabah adalah keluarnya sekelompok orang Islam dari negaranya untuk membuat keonaran, menumpahkan darah, merampas harta, menghancurkan kehormatan, merusak tanaman dan keturunan, dengan menentang agama, akhlak, norma, dan aturan. Hukum Hirabah Hirabah termasuk tindak kriminal yang terbesar. Dengan sebab itulah, hukuman dari tindakan ini sangat berat. Allah
  • Artikel Muslim: Fadhalah Jatuh Cinta

    ari dihancurkannya semua berhala Agama Allah itu sangat jelas dan nyata Sedang kemusyrikan adalah kegelapan Fadhalah jatuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Fadhalah jatuh cinta kepada Islam…. (hdn/hudzaifah) Sumber: http://www.dakwatuna.com | 9/11/2009 | 21 Dhul-Qadah 1430 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Muslim: Fiqhut Thaharah: Tayamum dakwatuna.com – Tayamum adalah menggunakan tanah yang
  • Artikel Syariah: Jadilah Manusia yang Tenang

    dakwatuna.com – Jadilah Manusia yang Tenang
  • Artikel Islam: Dalil Syar’i Bahwa Istighfar Dan Taubat Termasuk Kunci Rizki

    Oleh Syaikh Dr. Fadhl Ilahi Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2 Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun. Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :”Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata
  • Dakwah Islam: Pengantar Mushthalah Hadits

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 21/12/2006 | 00 Dhul-Hijjah 1427 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Islam: Sabar Dan Shalat Sebagai Penolong anya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, “Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami mohon pertolongan“. Agar permohonan kita diteri...Syariah Islam: Seorang Nenek Meninggal Akibat Blokade Sumber:
  • Artikel Islam: Menjaga Kepercayaan

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 23/1/2010 | 05 Safar 1431 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsDakwah Islam: Makna Muhasabah Sumber: http://www.dakwatuna.com | 17/9/2007 | 05 Ramadhan 1428 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comDakwah Islam: Hidayah-Mu dakwatuna.comKetika hamba-Mu engkau beri setetes cobaan Hamba merasa risau dan gelisah Merasa putus asa dari rahmat-Mu Padahal, Bencana terbesar bagi umat Adalah
  • Artikel Islam: Iman Kepada Para Rasul

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Ar-Rusul bentuk jamak dari kata “Rasul”, yang berarti orang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksud “rasul” di sini adalah orang yang diberi wahyu syara’ untuk disampaikan kepada umat. Rasul yang pertama adalah nabiyullah Nuh Alaihimus Sallam, dan yang terakhir adalah nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah
  • Artikel Islam: Munculnya Imam Mahdi. Keluarnya Dajjal

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Salah satu tanda Kiamat yang besar adalah munculnya Imam Mahdi. Ahlus Sunnah memahami Imam Mahdi sebagai berikut: Di akhir zaman akan muncul seorang laki-laki dari Ahlul Bait. Allah memberi kekuatan kepada agama Islam dengannya. Dia memerintah selama 7 tahun, memenuhi dunia dengan keadilan setelah (sebelumnya) dipenuhi oleh
  • Artikel Islam: Apakah Al Asy’ariyyah Termasuk Ahlu Sunnah?

    Oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsary PENDAHULUAN Ini adalah sebuah polemik yang sempat mencuat di kalangan kaum muslimin, khususnya para penuntut ilmu. Ada sebagian orang mengira Al Asy’ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Seperti yang sudah dimaklumi, sebenarnya madzhab Al Asy’ariyyah yang berkembang sekarang ini, hakikatnya adalah madzhab Al Kullabiyyah. Abul Hasan Al Asy’ari sendiri
  • Artikel Islam: Kesulitan Mendapatkan Daging Halal Dan Bejana Suci

    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya seorang pelajar dari Somalia. Saya belajar di negeri Cina. Saya menghadapi banyak masalah dalam soal makanan secara umum dan untuk mendapatkan daging halal secara khusus. Diantara kesulitan-kesulitan itu misalnya. . Sebelum pergi ke Cina, saya mendengar
  • Artikel Muslim: Fiqih Wanita Berkaitan Dengan Ramadhan

    (ketapel gaza n Islamic art) Wanita Dan Puasa Ramadhan a. Wanita yang wajib berpuasa dakwatuna.com – Wanita muslimah yang sudah baligh dan berakal ditandai dengan menstruasi (haidh), maka ia sudah wajib berpuasa di bulan Ramadhan apabila di bulan tersebut ia tidak dalam keadaan haidh atau nifas. b. Wanita haidh atau nifas Wanita yang sedang haidh
  • Artikel Islam: Perselisihan Rumah Tangga

    Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi Perselisihan Rumah Tangga Hampir tidak ada rumah tangga yang selamat dari berbagai macam problematika dan perselisihan, akan tetapi permasalahan dan perselisihan tersebut berbeda bentuk dan jenisnya. Islam menganjurkan bagi suami isteri agar dapat mengobati dan menyelesaikan segala macam bentuk persoalan yang terjadi di antara mereka berdua. Dan Islam
  • Artikel Islam: Buah Keimanan Kepada Qadha’ Dan Qadar : Kesabaran Dan Ketabahan, Memerangi Keputusasaan, Ridha

    Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd 7. Kuat Harapan Dan Berprasangka Baik Kepada Allah. Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha’
  • Dakwah Muslim: Sebaik-Baiknya Teman Adalah…

    dakwatuna.com – Selama kita hidup di dunia ini, akan selalu berhubungan dengan yang namanya “teman”. Ada teman yang baik, ada pula teman yang buruk. Tapi kadang kita sulit membedakan, mana sih teman yang baik itu, dan mana teman yang buruk itu. Sebagaimana halnya kita sering sulit membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Saudaraku,
  • Dakwah Islam: Hari Keluarga Para Dai

    (zawaj) dakwatuna.com - Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6) “Saya terima nikahnya fulanah binti fulan dengan mas kawin
  • Artikel Syariah: Konsep Wihdatul Wujud

    Irfan Pertanyaan: Assalamualaikum wr. wb. Ana mau nanya apa maksudnya konsep wahdatul wujud? Apakah itu paham sesat? Apakah benar Hasan Al-Bana menganut paham tersebut? Syukron. Wassalamualaikum wr. wb. Jawaban: Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Wihdatul wujud adalah paham yang mengajarkan bahwa tuhan dan manusia menyatu dalam diri manusia. Ajaran itu sering disebut-sebut diajarkan salah satunya oleh
  • Artikel Islam: Orang Yang Mendapatkan Bulan Ramadhan, Tapi Masih Punya Hutang Puasa Ramadhan Tahun Sebelumnya

    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada orang yang ketika datang bulan Ramadhan dia masih punya hutang puasa Ramadhan tahun lalu. Berdosakah dia dalam hal ini ? Haruskah dia membayar kifarat (denda) ? Jawaban Orang yang mempunyai hutang puasa Ramadhan dia wajib mengqadlanya
  • Syariah Islam: Berdoalah Jangan Sampai Punya Tetangga Jahat

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 23/7/2008 | 20 Rajab 1429 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Islam: Ramadhan Kudamba… . (coroflot.com / kchemnad)dakwatuna.comMulai hari ini, hati ini bersemi dalam taman yang indah… Karena kekasih hati, sang Illahi, Mengizinkan diri ini menghadiri undangan-Nya… Untuk me...Dakwah Islam: “Cinta Sesama” (donialsiraj.wordpress.com)dakwatuna.comSobat… Jika dirimu ingin menang… berangkat, berperanglah Kalahkan musuhmu,
  • Artikel Islam: Orang Tua Melakukan Perbuatan Yang Bertolak Belakang Dengan Syari’at

    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Orang tua saya melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syari’at dan adab-adabnya. Apa yang harus di lakukan terhadap ayah dalam kondisi seperti ini.? Jawaban. Waalaikumssalam warahmatullahi wabarakatuhu Kami do’akan semoga Allah memberikan petunjuk kepada ayah anda dan menganugrahinya
  • Dakwah Islam: Ternyata, Islam Hadir di Ground Zero Sejak Seratus Tahun Lalu

    Anak-anak yang tinggal di kawasan ‘Little Syria’ New York (RoL) dakwatuna.com – New York. Penolakan terhadap rencana pembangunan Islamic Center di dekat lokasi runtuhnya menara kembar WTC di jantung Manhattan, di New York terlihat tidak lazim. Upaya sekelompok kecil masyarakat yang menentang rencana itu seakan menafikkan sejarah keberadaan umat Islam di kota metropolitan itu. Faktanya,
  • Artikel Islam: Pengetahuan Tentang Hari Kiamat

    Oleh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil Pengetahuan tentang hari Kiamat adalah perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh banyak ayat di dalam al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena pengetahuan tentang hari Kiamat adalah perkara yang hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla. Dia tidak
  • Artikel Islam: Buah Keimanan Kepada Qadha’ Dan Qadar : Terbebas Dari Syirik, Ikhlas, Tawakkal, Takut Kepada Allah

    Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Iman kepada qadha’ dan qadar menghasilkan buah yang besar, akhlak yang indah, dan ibadah yang beraneka ragam, yang pengaruhnya kembali kepada individu dan komunitas masyarakat, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara buah-buah tersebut ialah sebagai berikut: 1. Menunaikan Peribadatan Kepada Allah Azza wa Jalla. Iman kepada qadar
  • Artikel Islam: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Menganjurkan Berbuka Puasa Dengan Kurma

    Oleh Abu Zubair Zaki Rakhmawan Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik : كَانَ رَسُو لُ اللِّهِ صَلَّى اللَّهً عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أََنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَا تٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَم تَكُنْ حَسَا حَسَواتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka
  • Artikel Islam: Hukum Sihir Dan Tukang Sihir

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa sihir itu memiliki hakekat dan meyakini bahwa hak ini benar-benar ada, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Dalil-dalil dari Al-Qur-an: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
  • Artikel Muslim: Menutup Aurat (Bagian ke-6): Dilaknatnya Laki-laki Menyerupai Perempuan dan Perempuan Menyerupai Laki-laki

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 6/10/2010 | 27 Shawwal 1431 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Muslim: Dari dan Hanya Untuk-Nya dakwatuna.comBila Kebahagiaan itu Hadir, Pastikan Bahwa Hanya Ia yang memberi dan Hanya kepada Nya Pujian itu terucap, Bila Ujian itu Datang, Yakinlah Kehadirannya Bentuk Cinta Allah Kepada Kita,Bi...Syariah Muslim: Rindu Ramadhan . (iluvislam.com)dakwatuna.com Ramadhan… Bulan
  • Artikel Islam: Shalat Sunnah Qabliyah Jum’at, Meninggalkan Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at

    Oleh Wahid bin ‘Abdis Salam Baali. Di antara kaum muslimin ada yang setelah mendengar adzan pertama langsung berdiri dan mengerjakan shalat dua rakaat sebagai shalat sunnah Qabliyah Jum’at. Dalam hal ini perlu saya katakan, saudaraku yang mulia, shalat Jum’at itu tidak memiliki shalat sunnah Qabliyah, tetapi yang ada adalah shalat Ba’diyah Jum’at. Memang benar telah
  • Artikel Islam: Hukum Berobat Kepada Dukun

    Oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta. Pertanyaan. Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Saya menikah dengan seorang gadis yang ditinggal mati ibunya serta tidak berpendidikan. Pernikahan ini dilaksanakan pada Idul Fitri tahun 1403H. Di permulaan bulan Dzulhijjah, ia menderita penyakit kejiwaan dengan cara menangis, menangis keras, dan terkadang (suaranya) meninggi
  • Artikel Islam: Manhaj Al-Qur’an Dan Sunnah Yang Sesuai Pemahaman Salaful Ummah Adalah Manhaj Penghimpun

    Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Kata Pengantar. Artikel ini, diambil dari kata sambutan Syaikh Ali bin Hasan Al-Atsari, murid kepercayaan Syaikh Muhaddits Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, dalam acara Ad-Daurah asy-Syariyah fi al-Masa’il al-’Aqadiyah wa al-Manhajiyah, yang diselenggarakan di Ma’had Ali al-Irsyad Surabaya tanggal 15-18 Dzul Qa’dah 1421H, yang
  • Artikel Islam: Sang Guru

    (padang-today.com) dakwatuna.com - Dalam bahasa Arab, guru disebut al-mu’allim. Kata al-mu’allim merupakan ism fail dari kata ‘allama yu’allimu, artinya transfer ilmu atau mengajar. Dalam Al-Qur’an Allah menegaskan bahwa tugas para nabi adalah mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah (wa yu’allimuhul kitaaba wal hikmah). Allah berfirman: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus
  • Dakwah Muslim: Hisab dan Rukyat Setara: Astronomi Menguak Isyarat Lengkap dalam Al-Qur’an tentang Penentuan Awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah

    – Para Santri sedang mengamati hilal (blogcasa.wordpress.com) dakwatuna.com -Diskusi soal penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah seringkali terfokus pada pemaknaan rukyat dan pengambilan dalil dari banyak hadits. Minim sekali pengambilan dalil dari Al-Quran dalam hal operasionalisasi penentuan awal bulan tersebut, karena memang Al-Quran tidak secara eksplisit mengungkapkan tata caranya seperti dalam hadits. Ya, kalau sekadar
  • Artikel Syariah: Mereka Mencuci Bekas Tapak Kakiku, Emangnya Aku Najis ?

    Pertanyaan Assalamu'alaikum Wr. Wb. Suatu hari saya pernah Sholat di suatu masjid yang berdekatan dengan Rumah teman saya, pada waktu itu saya sedikit terlambat sholatnya pada saat para jema'ah sedang berdoa, sehingga saya hanya sholat sendiri. Begitu saya selesai sholat sebagian mereka mencoba membersihkan sisa-sisa telapak kaki saya dengan kain pel yang bersih sampai saya
  • Artikel Syariah: Bara Disangka Permata

    dakwatuna.com - Antara bara dan permata, keduanya jelas jauh berbeda, baik harga maupun keindahannya. Tapi bagi mereka – yang silau oleh kemilau dunia – bara atau permata terlihat sama. Bahkan karena nafsunya, bara neraka disangka permata. Astaghfirullah! Jangan jajan sembarangan! Teliti sebelum membeli! Ini bukan provokasi, tapi sebuah peringatan. Dan muncul bukan tanpa alasan. Seringnya pemberitaan
  • Dakwah Islam: Teka-teki Keganjilan Wafatnya Yasser Arafat

    Sumber: http://www.dakwatuna.com | 11/8/2009 | 19 Shaban 1430 H RUMAH YATIM – rumah-yatim.balitabunda.com Related PostsArtikel Islam: Relawan Asing Digebuki Pasukan Keamanan Mesir Sumber: http://www.dakwatuna.com | 6/1/2010 | 19 Muharram 1431 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comDakwah Islam: Peperangan di Masa Rasulullah (bagian 2) Sumber: http://www.dakwatuna.com | 29/1/2008 | 19 Muharram 1429 H RUMAH YATIM - rumah-yatim.balitabunda.comSyariah
  • Dakwah Muslim: Jika Hidup Terasa Sulit (3)

    h pada hamba-hamba-Nya Senantiasa mengabadi, Selamanya… (gettyimages) Saudaraku…. Pernahkah kita merasakan energi sabar yang lahir dari penghambaan Nabi Ayyub as, Energi harapan dan cinta yang dipupuk oleh Muhammad Al-Fatih dalam ibadah-ibadah kepada-Nya bahwa suatu saat, Konstantinopel akan diraihnya, kebeningan hati Fatimah az-zahra kecil yang dengan tegas menentang kaum Quraisy yang mengotori Ayahnya dengan isi perut
April 2014
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  


http://www.baitulquran.or.id